Inovasi 'Ketahanan Pangan' di Atas Jalan Rusak Jombang

Warga telah lama bersabar menunggu realisasi janji perbaikan. Namun, karena aspal yang dinanti tak kunjung tiba, warga memutuskan bahwa menanam pohon pisang jauh lebih produktif daripada sekadar menanam harapan yang tak kunjung tumbuh.

31 Jan 2026 - 10:00
Inovasi 'Ketahanan Pangan' di Atas Jalan Rusak Jombang
Ilustrasi jalan rusak di Desa Mojowarno yang ditanami pohon singkong dan pisang. (Ai/SJP)

JOMBANG, SJP — Jika pemerintah pusat tengah sibuk menggaungkan program swasembada pangan, warga Desa Mojowarno, Kabupaten Jombang, tampaknya sudah melangkah lebih maju. 

Bukannya menuntut dibangun aspal, warga setempat memilih melakukan alih fungsi lahan, yakni menyulap akses jalan utama menuju Makam di Desa Mojowarno menjadi perkebunan pisang dan singkong dadakan.

Aksi yang memadukan kreativitas agrikultur dan protes sosial ini viral di media sosial setelah warga kehilangan kesabaran terhadap kondisi jalan sepanjang 600 meter yang lebih menyerupai kubangan daripada infrastruktur.

Ketua RT setempat, Eko Supriyanto, mengakui bahwa penanaman pohon di tengah jalan tersebut adalah manifestasi dari kekecewaan menahun. 

Bukan tanpa alasan, menurut dia selama dua tahun terakhir, warga dipaksa melakukan 'uji nyali' setiap kali melintasi jalur tersebut, terutama saat musim hujan yang mengubah lubang jalan menjadi jebakan yang membahayakan.

"Jalan ini akses penting menuju makam. Sayangnya, respons baru muncul setelah aksi kami viral di media sosial. Rupanya, kamera ponsel lebih cepat bekerja daripada alat berat pemerintah," ujar Eko, Sabtu (31/1/2026).

Menurut dia, warga telah lama bersabar menunggu realisasi janji perbaikan. Namun, karena aspal yang dinanti tak kunjung tiba, warga memutuskan bahwa menanam pohon pisang jauh lebih produktif daripada sekadar menanam harapan yang tak kunjung tumbuh.

Sementara itu, Kepala Desa Mojowarno, Tatag Yudianto, saat dikonfirmasi membenarkan jika jalan rusak itu merupakan tanggungjawabnya. Namun demikian ia memberikan pembelaan yang cukup diplomatis. 

Ia berdalih bahwa kerusakan jalan sedalam 3,5 meter lebarnya itu disebabkan oleh mobilitas kendaraan berat pengangkut hasil pertanian yang tidak sesuai dengan kapasitas kelas jalan desa.

"Konstruksi jalan desa memang tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan berat. Jika terus dipaksa, wajar jika cepat rusak," jelas Tatag.

Kendati demikian, Tatag menjanjikan angin segar melalui Program Desa Mantra. Menurutnya, perbaikan jalan tersebut sudah masuk dalam kalender pembangunan tahun 2026. 

Ia menyayangkan aksi 'penghijauan aspal' tersebut dan menyarankan agar warga lebih aktif menggunakan forum musyawarah desa (Musdes) daripada media sosial.

"Persoalan ini sebenarnya sudah dibahas. Kami memiliki keterbatasan anggaran, sehingga pembangunan harus dilakukan secara bertahap. Aspirasi sebaiknya disampaikan melalui jalur resmi," pungkasnya. (**) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow