Hardiknas 2025 di Jatim: Dorong Inovasi Sekolah dan Pemberdayaan Anak Disabilitas

Anak-anak disabilitas merakit sendiri kursi roda yang mereka butuhkan. Jatim tak sekadar memberi bantuan, tapi membangun keberdayaan dan inovasi di Hari Pendidikan Nasional 2025.

02 May 2025 - 18:45
Hardiknas 2025 di Jatim: Dorong Inovasi Sekolah dan Pemberdayaan Anak Disabilitas
Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Dardak menyerahkan kursi roda adaptif untuk anak disabilitas di peringatan Hardiknas 2025 (Dok. Kominfo Jatim for SJP)

SURABAYA, SJP - Pendidikan yang baik bukan hanya soal angka kelulusan atau peringkat ujian. Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang memberi ruang bagi semua anak untuk tumbuh termasuk mereka yang berbeda, dan mereka yang punya ide yang tak biasa. 

Di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 yang angkat tema nasional ”Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya untuk membangun ruang belajar yang tidak hanya merata, namun juga inklusif sekaligus inovatif.

Gerakan 1 Sekolah 1 Inovasi

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan target ambisius bagi seluruh SMA, SMK, dan SLB, baik negeri maupun swasta untuk menghasilkan satu inovasi dari masing-masing satuan pendidikan sepanjang tahun 2025. Inisiatif tersebut dikenal dengan nama “1 Sekolah 1 Inovasi”.

"Kalau kita ingin pendidikan terus relevan dengan perkembangan zaman, maka setiap sekolah harus menjadi pusat kreativitas dan pembaruan," ujar Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat peringati Hardiknas 2025 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (2/5/2025).

"Lewat program ini, sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat melahirkan ide-ide baru," imbuhnya.

Program itu ditargetkan melahirkan total 4.090 inovasi, terdiri atas 789 dari sekolah negeri dan 3.301 dari sekolah swasta. Fokus inovasi terbuka luas, mulai dari teknologi tepat guna, pengembangan kurikulum, model pembelajaran kreatif, hingga proyek sosial berbasis komunitas.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebut bahwa pendampingan akan dilakukan oleh masing-masing Cabang Dinas agar inovasi yang muncul tidak berhenti pada ide. 

"Kami akan fasilitasi agar ide-ide ini bisa dikembangkan, dipamerkan, bahkan dilombakan. Inovasi harus dihidupkan, bukan hanya dilaporkan," ujarnya.

Anak Disabilitas Merakit Kursi Roda Sendiri

Pada aspek inklusivitas, perhatian besar juga diberikan kepada peserta didik penyandang disabilitas. Pemprov Jatim bekerja sama dengan Global Village Foundation & Wheelchair for Kids asal Australia untuk menyalurkan 170 kursi roda adaptif bagi anak-anak difabel.

Yang istimewa, kursi roda tersebut tidak langsung diberikan dalam bentuk jadi. Anak-anak justru diajak untuk merakit sendiri kursi roda mereka, sesuai dengan postur tubuh dan kebutuhan mobilitas masing-masing.

"Tidak semua anak bisa menggunakan kursi roda standar. Tinggi badan, kekuatan tangan, lebar tubuh semua perlu disesuaikan. Karena itu, mereka dirancang untuk bisa dirakit sendiri. Ini bukan sekadar bantuan, ini pemberdayaan," jelas Aries.

Ia menambahkan bahwa pendekatan adaptif itu tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tapi juga membangun rasa percaya diri. Dari program tersebut anak tidak lagi merasa sebagai penerima, melainkan menjadi pelaku.

"Bahkan marena program ini, ada anak yang mulai tertarik pada teknik perakitan," ujarnya.

Inklusif & Inovatif, Dua Kata Kunci Pendidikan Masa Depan

Dari program-program tersebut, pemerintah Jawa Timur berupaya mendorong penciptaan dan menjamin keterlibatan semua anak dalam proses pendidikan, tanpa kecuali. 

Inklusivitas bukan sebatas membuka akses, tetapi juga memberi ruang peran dan tanggung jawab. Sedangkan inovasi bukan hanya soal teknologi, tetapi soal gagasan dan keberanian untuk berbeda. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow