Hadiri Tradisi Jamasan Tombak Kiai Upas, Bupati Tulungagung, Simbol Doa untuk Kedamaian dan Kemajuan

Tradisi jamasan pusaka Kabupaten Tulungagung, tombak Kiai Upas tak hanya menjadi pelestarian budaya, tetapi juga sarat makna sebagai tolak balak. Ini harapan Bupati Gatut Sunu untuk masyarakat Tulungagung.

11 Jul 2025 - 21:32
Hadiri Tradisi Jamasan Tombak Kiai Upas, Bupati Tulungagung, Simbol Doa untuk Kedamaian dan Kemajuan
Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo (depan) bersama jajaran Forkopimda Tulungagung, mengusung pusaka tombak Kiai Upas. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP—Tradisi sakral Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas kembali digelar di Pendopo Kanjengan, di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung, Jumat (11/7/2025). Kegiatan yang dilangsungkan tiap bulan Suro dalam kalender Jawa ini menjadi simbol penyucian pusaka sekaligus harapan agar Kabupaten Tulungagung senantiasa aman, tenteram, dan sejahtera.

Prosesi jamasan berlangsung khidmat dan penuh makna. Dimulai dengan penyerahan air suci Nowo Tirto oleh para dayang kepada juru jamas. Air ini berasal dari sembilan sumber berbeda, termasuk mata air, tempuran sungai, air kelapa, hingga sadapan pohon randu dan deresan pisang raja. Kesembilan jenis air ini melambangkan tubuh naga, kepala, badan, dan ekor.

Juru jamas, Winarto menjelaskan, ritual ini bukan hanya upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai doa agar seluruh unsur kepemimpinan di Tulungagung tetap bersih lahir batin dan mampu menjalankan amanah rakyat.

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, yang hadir bersama wakil bupati, sekda, dan jajaran forkopimda, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya menjaga harmoni dan menyelaraskan seluruh elemen masyarakat.

"Ini tradisi yang sangat lama dan menjadi kekuatan spiritual. Harapan kami, seluruh warga Tulungagung diberi kesehatan, ketenteraman, dan hidup damai berdampingan," ucapnya.

Dia juga menekankan pentingnya sinergi antara legislatif, eksekutif, forkopimda, dan seluruh elemen masyarakat.

"Mari kita bangun Tulungagung bersama, termasuk teman-teman media agar visi dan misi pemerintahan bisa tercapai dalam lima tahun ke depan," ujar Gatut Sunu.

Menurut dia, pada jamasan tahun ini konsep ritual sudah mulai dikemas lebih modern dan terbuka untuk masyarakat luas. Bahkan, kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari pelestarian budaya nasional.

Pada tahun 2025 ini, jamasan pusaka tombak Kiai Upas menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Festival Budaya Spiritual 2025.

Terkait wacana menjadikan Tombak Kiai Upas sebagai benda cagar budaya, bupati mengaku belum menerima laporan resmi. Namun akan mendukung penuh jika itu demi kebaikan dan pelestarian warisan leluhur.

"Intinya, kalau untuk kebaikan Tulungagung saya siap mendukung sepenuhnya," tandasnya.

Tradisi jamasan ini tak hanya menjadi pelestarian budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai wisata spiritual dan budaya yang sarat nilai historis dan lokalitas. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow