Hadiri Harlah 1 Abad NU di Bondowoso, Gus Yahya Ajak Nahdliyin Jaga Jati Diri Organisasi

PBNU menyoroti peningkatan signifikan warga Indonesia yang mengaku NU berdasarkan hasil survei, serta menegaskan pentingnya penguatan identitas dan kaderisasi organisasi.

02 Feb 2026 - 08:58
Hadiri Harlah 1 Abad NU di Bondowoso, Gus Yahya Ajak Nahdliyin Jaga Jati Diri Organisasi
Gus Yahya (kanan) saat menerima cindera mata dari Ketua PCNU Bondowoso, KH Abdul Qodir Syam dalam acara silaturahmi akbar dan peringatan Harlah NU 1 Abad di Aula Graha NU Bondowoso (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Malam usai hujan di Bumi Ki Ronggo lebih hangat dari biasanya. Ratusan pengurus Nahdlatul Ulama (NU), mulai tingkat cabang hingga ranting, berkumpul di Aula Graha NU, Kecamatan Bondowoso, Ahad (1/2/2026) malam. Mereka larut dalam silaturahmi akbar dan doa bersama memperingati Hari Lahir (Harlah) NU.

Di tengah suasana khidmat, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf hadir menyapa warga Nahdliyin Bondowoso. Gus Yahya datang didampingi Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni. Kehadiran pimpinan tertinggi NU itu menjadi magnet tersendiri bagi para peserta yang memenuhi aula.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya mengajak jemaah merenungi perjalanan panjang NU di tengah masyarakat. Ia mengungkapkan data survei yang menunjukkan lonjakan signifikan jumlah warga Indonesia yang mengaku sebagai bagian dari NU.

“Pada 2005, survei menyebut warga Indonesia yang mengaku NU sekitar 27 persen. Padahal, pada Pemilu 1955, pemilih NU hanya sekitar 18 persen,” tutur Gus Yahya.

Angka tersebut, kata dia, melonjak tajam dalam survei terbaru pada 2023. Saat itu, sebanyak 56,9 persen responden menyatakan diri sebagai Nahdliyin. Fakta ini, menurut Gus Yahya, bukan sekadar statistik, melainkan tanda tanya besar yang harus dijawab bersama.

“Saya bertanya-tanya, orang-orang yang dari 2005 sampai 2023 mengaku NU itu berasal dari mana, dan bagaimana pemahaman mereka tentang NU,” ujarnya.

Gus Yahya menegaskan, tanpa konsolidasi yang kuat, identitas NU berpotensi larut di tengah masyarakat. Karena itu, PBNU saat ini melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari penjabaran aturan, prosedur, hingga mekanisme organisasi agar pengelolaan NU semakin objektif dan tertata.

Tak hanya itu, PBNU juga memperkuat kapasitas organisasi melalui berbagai pelatihan kader. “Supaya kader-kader itu betul-betul tahu, NU itu apa,” tegasnya.

Seiring perkembangan zaman, PBNU juga melangkah ke ranah digital dengan membangun platform Digdaya sebagai bagian dari transformasi digital organisasi.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni menegaskan pesan penting di momentum satu abad NU. Ia berharap seluruh Nahdliyin terus menjaga kekompakan dan meningkatkan peran kemanfaatan di tengah masyarakat.

“Jamaah kita harus semakin solid, semakin kompak, dan hikmah kehadiran NU semakin dirasakan,” ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam mengajak seluruh hadirin memanfaatkan momen Nisfu Syakban untuk bermunajat.

Ia menyebutkan tiga doa utama yang dipanjatkan bersama, panjang umur dalam ketaatan, dijauhkan dari segala musibah, serta dianugerahi kekayaan hati dan husnul khatimah.

Lebih jauh, KH Abdul Qodir Syam juga mengingatkan pentingnya mendoakan NU dan Indonesia. 

“Doakan Indonesia. Negeri ini biasanya ‘dirusak’ dari NU dulu karena NU adalah fondasinya. Maka, doakan NU agar senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT,” pungkasnya. (**)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow