Gandeng ITS dan Arizona State University, Konjen AS di Surabaya Gali Potensi Semikonduktor Lewat Inovasi Mahasiswa

Ketergantungan dunia pada chip dan rapuhnya rantai pasok global mendorong Indonesia–AS mempercepat penguatan industri semikonduktor melalui kemitraan pendidikan guna melahirkan beragam inovasi dari generasi muda.

26 Nov 2025 - 22:58
Gandeng ITS dan Arizona State University, Konjen AS di Surabaya Gali Potensi Semikonduktor Lewat Inovasi Mahasiswa
Pemenang kompetisi, Riva Rizkiana, bersama Konsul Jenderal AS Chris Green dan perwakilan dari ITS dan Arizona State University (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya bersama Arizona State University (ASU) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar babak final Semiconductor Venture Accelerator di Gedung Fakultas Teknik Elektro ITS Surabaya.

Kompetisi tersebut menjadi upaya memperkuat hubungan ekonomi dan pendidikan antara Indonesia dan Amerika, khususnya dalam pengembangan industri semikonduktor yang kini menjadi sektor strategis global.

Ajang tersebut adalah puncak dari rangkaian kompetisi yang menghimpun sekitar 60 mahasiswa dari berbagai bidang teknologi. Setelah melalui proses pelatihan, mentoring, dan seleksi, delapan finalis terpilih mempresentasikan inovasi terbaik mereka di hadapan panel juri. 

Semikonduktor Jadi Fokus AS–Indonesia

Konsul Jenderal AS di Surabaya, Christopher Green atau Chris Green, menegaskan bahwa dorongan terhadap industri semikonduktor bukan sekadar agenda teknologi, melainkan strategi penting untuk mengamankan rantai pasok global.

"Semikonduktor digunakan di semua barang, mulai dari HP, komputer, mobil, satelit, semuanya memakai semikonduktor. Ini membuatnya semakin penting bagi setiap sektor," ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu (26/11/2025).

Green menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah rantai pasok global yang sebagian besar masih terpusat di China dan rentan terhadap hambatan geopolitik. 

Karena itu, Amerika Serikat kini membuka kolaborasi dengan lebih banyak negara untuk memperluas ekosistem produksi, riset, dan inovasi. Indonesia dinilai memiliki potensi besar meski sektor semikonduktornya masih kecil.

"Keinginan kami adalah memperkuat supply chain untuk manfaat Indonesia dan Amerika. Indonesia punya potensi tinggi, dan kami ingin membantu meningkatkan kemampuan pendidikan serta inovasinya," jelasnya.

Pendidikan dan Kebijakan Jadi Kunci

Menurut Green, pengembangan sektor semikonduktor membutuhkan kebijakan yang tepat dan ekosistem pendidikan yang kuat. Ia menilai inisiatif seperti program kompetisi ini dapat memperkuat kepercayaan diri mahasiswa Indonesia untuk berkiprah di industri teknologi tinggi.

"Tentu saja pemerintah memiliki peran dalam menciptakan regulasi yang mendukung. Tapi yang tidak kalah penting adalah interaksi antara pendidikan dan industri. Harapan kami, kebijakan dan program ini bisa membuat mahasiswa yakin bahwa mereka bisa ikut membangun sektor semikonduktor Indonesia," katanya.

Chris Green berharap pengalaman seluruh peserta dapat berkembang menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan teknologi Indonesia. Baginya, program seperti ini merupakan investasi Amerika Serikat terhadap talenta muda Indonesia.

“Harapan saya mahasiswa yang menang dan semua yang bersaing akan menggunakan pengalaman ini untuk melanjutkan pendidikan dan karier mereka. Ini adalah investasi dalam mahasiswa Indonesia, masa depan Indonesia,” tutupnya.

Monitoring Emisi untuk Bahan Semikonduktor

Dalam final tersebut, gelar juara diraih oleh Riva Rizkiana, mahasiswa semester 7 Teknik Fisika ITS. Ia membawa ide bertajuk SusTech ID, sebuah konsep startup yang mengembangkan teknologi monitoring emisi dari material semikonduktor.

Riva memaparkan bahwa SusTech ID memiliki dua produk utama:

  1. Sensor monitoring emisi yang mendeteksi aktivitas emisi bahan semikonduktor.
  2. Platform website real-time yang menampilkan data secara langsung dari sensor tersebut.

Selain dua produk inti, startup tersebut juga menawarkan layanan kalibrasi dan ESG reporting, solusi yang kini banyak dibutuhkan perusahaan-perusahaan green technology.

"Untuk aspek penilaiannya, kita menimbang juga sisi bisnis dan potensi pemasaran global. Karena itu saya menekankan bagaimana solusi ini bisa dijual, serta menampilkan timeline pengembangan yang jelas," kata Riva.

Ia menjelaskan bahwa ide tersebut ia rumuskan dalam waktu singkat karena didukung dua tahun pengalaman di bidang green technology. Harapannya, Indonesia suatu hari dapat membuat sensor emisi sendiri dan mampu menjalankan monitoring proyek-proyek teknologi dengan standar yang lebih baik.

"Semoga ke depannya Indonesia punya sensor emisi buatan sendiri, sehingga pelaporan seperti ESG bisa jauh lebih akurat dan tidak asal-asalan," ujarnya.

Riva mengaku bahwa program ini memberikan dampak besar terhadap kapasitas dirinya, sebab bukan hanya kompetisi, peserta juga mendapatkan pelatihan intensif. Selama program, ia menerima sembilan course dan sembilan sertifikat secara gratis.

"Biasanya kalau ikut Coursera kan bisa 500 ribu per sertifikat. Di sini kami dapat sembilan sekaligus dan gratis. Jadi memang harus dijalani dengan serius," pungkasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow