Madrasah sebagai Bengkel Spiritual, Menag RI Tekankan Fondasi Kurikulum Berbasis Cinta

Menag menegaskan madrasah sebagai ‘bengkel spiritual’ yang menanamkan ilmu langit dan cinta, menjadikan KBC fondasi pembentukan generasi berakhlak di era post-truth.

26 Nov 2025 - 22:18
Madrasah sebagai Bengkel Spiritual, Menag RI Tekankan Fondasi Kurikulum Berbasis Cinta
Menag Nasaruddin Umar menyampaikan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta dalam Bimtek KBC Batch 1 Kanwil Kemenag Jawa Timur di Surabaya, Rabu (26/11/2025) (Dok. Kakanwil Kemenag Jatim)

SURABAYA, SJP — Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar menegaskan kembali posisi madrasah sebagai “bengkel spiritual” dalam sistem pendidikan nasional. 

Pesan tersebut disampaikan saat hadir pada hari kedua Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Pengawas Madrasah, Kepala MA, dan Wakil Kepala Kurikulum MA Batch 1 di International Conference on Indonesian Islam di UINSA Surabaya, Rabu (26/11/2025).

Dalam pemaparannya, Menag menyebut madrasah memiliki karakter pendidikan yang lebih holistik dibanding sekolah umum. Ia menggambarkan madrasah sebagai lembaga yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan dunia, tetapi juga tempat menempa kejernihan batin.

"Madrasah adalah bengkel spiritual yang mengajarkan ilmu langit, dimulai dari pembersihan batin sebelum proses ta’lim," ujar Menag Nasaruddin, Rabu (26/11/2025).

Ia menekankan bahwa guru madrasah idealnya mengawali, menjalani, dan mengakhiri pembelajaran dengan doa. Menurutnya, kegiatan di madrasah bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga perjalanan spiritual yang menuntun peserta didik pada keberkahan.

"Guru madrasah, idealnya memulai aktivitas dengan doa, mengajar dengan penuh doa, dan menutup pembelajaran dengan doa pula," imbuhnya.

Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Kerangka Utama

Sebagai pencetus Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Menag memberikan penjabaran mendalam mengenai arah kebijakan dan landasan filosofis kurikulum tersebut. KBC digagas sebagai jalan untuk mengembalikan pendidikan madrasah pada orientasi kemanusiaan, akhlak, dan spiritualitas.

“Cinta sebagai pusat Kurikulum Berbasis Cinta adalah buah dari proses panjang yang terkait dengan konsep ekoteologi, kesadaran akan hubungan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam semesta,” jelas Menag.

Melalui KBC, madrasah diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, spiritual, dan etis.

Menag juga menyoroti keluasan epistemologi madrasah dibanding sekolah umum. Ia menyebut bahwa sekolah pada umumnya memfokuskan pembelajaran pada alam fisik, sementara madrasah mencakup wilayah yang lebih luas.

“Madrasah memiliki paket pembelajaran yang lebih lengkap. Secara epistemologi, sekolah mempelajari alam fisik, sementara madrasah mempelajari fisika sekaligus metafisika,” terangnya.

Dalam nomenklatur pendidikan, sekolah umum banyak menitikberatkan pada logika. Namun madrasah, kata Menag, berjalan lebih jauh.

“Berbeda dengan madrasah. Pembelajaran di madrasah tidak hanya mempelajari logika tetapi juga intuisi,” kata Menag.

Menag Nasaruddin juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan di madrasah tidak semata-mata merujuk pada capaian akademik.

“Di sekolah umum, ukuran keberhasilan adalah nilai dan orientasinya dunia, di madrasah, ukurannya adalah sikap (attitude) dengan orientasi dunia sekaligus akhirat,” tuturnya.

Pada titik ini, konsep bengkel spiritual dan Kurikulum Berbasis Cinta bertemu. Keduanya menempatkan perkembangan karakter dan spiritualitas sebagai inti pembelajaran.

Panggilan untuk Guru: Lebih dari Sekadar Pengajar

Menag Nasaruddin menutup materinya dengan menekankan bahwa guru madrasah tidak cukup hanya menjadi pengajar di kelas.

“Guru madrasah bukan hanya berperan sebagai personal teacher, tetapi juga pembimbing spiritual yang harus menghadirkan jiwa dan karakter seorang guru madrasah dalam setiap proses pembelajaran,” ujarnya.

Ia berharap para peserta Bimtek mampu membawa nilai-nilai KBC ke madrasah masing-masing.

“Semoga Bapak/Ibu peserta Bimtek dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai KBC di madrasah masing-masing,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Bimtek KBC Batch 1 berlangsung selama tiga hari, 25–27 November, di Bess Mansion Hotel Surabaya. Peserta terdiri dari Pengawas MA, Kepala MA, dan Wakil Kepala Kurikulum MA se-Jawa Timur. 

Kegiatan tersebut ditujukan untuk memperkuat implementasi KBC sekaligus mempertegas kembali posisi madrasah sebagai institusi pendidikan yang berakar pada cinta, akhlak, dan spiritualitas.

Kanwil Kemenag Jatim menegaskan komitmennya menghadirkan madrasah unggul yang tidak hanya siap menghadapi tantangan akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter dan moral generasi mendatang. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow