Gagal Bersaing, Wisata Roro Kuning Nganjuk Kini Sepi Pengunjung
NGANJUK, SJP - Wisata Roro Kuning di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk kini sepi pengunjung. Akibatnya, pendapatan asli daerah (PAD) dari wisata tersebut menurun.
Kondisi itu tidak lepas dari akibat persaingan yang semakin ketat dengan objek wisata lain. Yakni wisata Jolotundo yang belakangan semakin populer menyaingi wisata Roro Kuning.
Roro Kuning yang terkenal dengan keindahan alam pegunungan dan pemandian miniatur air terjunnya pernah menjadi wisata favorit bagi keluarga dan wisatawan lokal.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, objek wisata ini kehilangan daya tariknya. Salah satu sumber mengungkapkan, meski fasilitas memadai, pengunjung cenderung lebih memilih Jolotundo.
Sebab, Jolotundo dinilai memiliki daya tarik alam yang lebih menonjol serta menawarkan berbagai kegiatan menarik. Seperti trekking dan wisata sejarah.
Seorang pengunjung asal Kediri, Budi, yang datang ke Roro Kuning saat ditemui mengatakan, meski tempatnya tenang, tidak ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan.
"Saya lebih memilih Jolotundo. Karena selain bisa menikmati pemandangan alam yang alami, ada banyak tempat untuk foto yang menarik," ungkapnya.
Sepinya pengunjung juga disebabkan oleh kurangnya perawatan wisata Roro Kuning. Bahkan masih banyak fasilitas bangunan yang dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Seperti fondasi sungai di bawah air terjun merambat yang mengalami kerusakan setelah diterjang banjir beberapa waktu lalu dan sebagainya.
Sementara sepinya pengunjung di objek wisata Roro Kuning Nganjuk juga dikeluhkan para pedagang kaki lima (PKL) yang ada di lingkungan Roro Kuning
Seharusnya, setiap liburan banyak wisatawan yang datang berkunjung, tetapi justru kondisinya sepi pengunjung.
"Terus terang kami mengeluh karena sepi pembeli. Dari pagi sampai siang menjelang sore ini belum banyak yang laku jualan kami. Apalagi kalau turun hujan, maka sepinya menjadi-jadi," kata Syarif, salah satu pedagang di wisata Roro Kuning Nganjuk.
Terkait problem di wisata Roro Kunung, Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk, Sri Handariningsih mengakui daya tarik Roro Kuning mulai menurun.
Menurut dia, salah satu penyebabnya yaitu keberadaan wisata Jolotunda Park. Meski begitu pihaknya mengaku telah berupaya melakukan berbagai promosi. Namun masih sulit untuk bersaing dengan Jolotundo yang menawarkan lebih banyak pilihan bagi wisatawan.
"Ya memang benar sepi. Sejak ada wisata Jolotundo Park. Tapi masih beberapa pengunjung," ujarnya. Ahad (30/3/2025)
Untuk menyiasati kondisi ini, pihaknya berencana akan menggelar sejumlah event di lokasi wisata tersebut. Antara lain yang direncanakan yaitu menggelar live music di wisata Roro Kuning.
"Masih ada, tidak sepi total. Kami juga nanti pas liburan lebaran mendatangkan live music untuk menghibur pengunjung," ucap Sri Handariningsih.
Akibat sepinya pengunjung, pemasukan PAD yang sebelumnya diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah justru menunjukkan angka yang lesu.
PAD dari sektor wisata mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah setempat sedang memikirkan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik wisata Roro Kuning, termasuk perencanaan event dan peningkatan fasilitas agar dapat bersaing lebih efektif.
Sebagai respons terhadap persaingan ini, beberapa pihak menyarankan agar Roro Kuning lebih fokus pada segmentasi pasar tertentu. Seperti wisatawan yang mencari ketenangan atau keluarga yang menginginkan suasana damai.
Hal lain yang bisa dilakukan yaitu menjalin kerja sama dengan tempat-tempat wisata lainnya untuk meningkatkan promosi bersama.
Meski demikian, para pengunjung berharap agar Roro Kuning tetap dapat menawarkan pengalaman wisata yang unik, agar tidak kalah saing dengan objek wisata lain yang semakin berkembang. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

