Gadis Kretek: Cinta, Asap, dan Sejarah yang tak Selesai

Gadis Kretek adalah serial Netflix adaptasi novel Ratih Kumala yang menampilkan pergulatan gender, cinta, dan krisis industri kretek tahun 1960-an. Disutradarai oleh Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, serial ini mendapat penghargaan di Seoul dan menarik karena sinematografi serta kekuatan cerita sosialnya.

05 Aug 2025 - 11:11
Gadis Kretek: Cinta, Asap, dan Sejarah yang tak Selesai
Poster Series Netflix Gadis Kretek (Foto: idseducation.com)

SUARAJATIMPOST.COM — Gadis Kretek, serial drama Indonesia orisinal Netflix yang tayang perdana pada 2 November 2023, menyuguhkan kisah cinta yang rumit di tengah kabut industri kretek dan sejarah kelam bangsa. Disutradarai Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, serial ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ratih Kumala dan terdiri dari lima episode.

Cerita berpusat pada Soeraja (Ario Bayu), pemilik pabrik kretek Djagad Raja, serta Dasiyah (Dian Sastrowardoyo), perempuan visioner yang mencoba menciptakan racikan kretek baru di tengah dominasi budaya patriarki pada era 1960-an. Dalam alur maju-mundur, keduanya terlibat dalam kisah cinta yang terbelit konflik politik, sosial, dan trauma pasca-1965.

Visualisasi latar waktu menjadi kekuatan utama serial ini. Atmosfer era kolonial, desain interior pabrik, serta warna-warna nostalgia terekam dengan autentik, memberi pengalaman sinematik yang kuat. Tak hanya menghidupkan sejarah, serial ini juga menyentuh persoalan identitas Indonesia dan warisan budaya melalui elemen kretek sebagai simbol.

“Gadis Kretek” berhasil menyentuh penonton internasional. Pada Seoul International Drama Awards 2024, serial ini dinobatkan sebagai miniseri terbaik, membuktikan bahwa narasi lokal pun mampu melintasi batas budaya.

Penampilan apik para aktor utama—Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, Arya Saloka—menghidupkan karakter yang penuh konflik batin dan ambiguitas moral. Ketegangan emosional antara pilihan pribadi dan tuntutan zaman terasa intens sepanjang episode.

Namun di balik pujian itu, muncul kritik. Sejumlah pihak menyoroti potensi glamorisasi industri rokok. Representasi perempuan perokok, meski progresif secara visual, dianggap bisa disalahtafsirkan, terutama karena minimnya konteks kesehatan publik.

Beberapa ulasan menyebut serial ini terlalu meromantisasi dunia kretek tanpa memberikan ruang yang cukup untuk refleksi kritis atas dampak industri tembakau di masa kini. Meski demikian, “Gadis Kretek” tetap menjadi pencapaian penting dalam lanskap serial orisinal Indonesia. (**)

Sumber: dilansir dari berbagai sumber
Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow