Festival Balon Udara Mini: Langit Desa Notorejo Tulungagung Penuh Warna

Aantusiasme warga sangat tinggi sehingga Pemerintah Desa Notorejo berencana menjadikan Festival Balon Udara Mini sebagai agenda rutin tahunan setiap usai Lebaran

29 Mar 2026 - 13:14
Festival Balon Udara Mini: Langit Desa Notorejo Tulungagung Penuh Warna
Warga antusias melihat festival balon udara di Desa Notorejo, Tulungagung. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Minggu (29/3/2026) pagi yang cerah di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung, terasa berbeda. Di bawah kaki gunung, langit dihiasi balon udara warna-warni dengan berbagai motif unik. Bukan balon liar yang kerap meresahkan, melainkan hasil kreativitas para pemuda desa yang diterbangkan secara aman dalam Festival Balon Udara Mini di lapangan MI Bustanul Ulum.

Alih-alih menindak tegas dengan cara represif, Pemerintah Desa Notorejo memilih pendekatan yang lebih santai namun efektif, mengajak masyarakat tetap berkarya, tetapi dengan aturan yang aman.

Kepala Desa Notorejo, Mustakim, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja digelar untuk mengurangi tradisi penerbangan balon udara liar yang biasanya marak saat momen Lebaran.

Alhamdulillah, pagi ini kita bisa mengadakan festival balon. Ini sebagai contoh untuk desa lain, karena masih banyak yang menerbangkan balon liar dan petasan yang merugikan masyarakat,” ujar Mustakim.

Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah desa, pihak kepolisian, TNI, serta remaja masjid. Tujuannya jelas, mengedukasi masyarakat agar tetap bisa menyalurkan hobi tanpa harus membahayakan lingkungan sekitar.

“Kalau di Desa Notorejo, penerbangan balon liar sudah tidak ada sama sekali. Ini berkat kerja sama semua pihak, mulai dari Babinkamtibmas, Babinsa, hingga masyarakat,” tegasnya.

Menurut Mustakim, balon udara liar berpotensi menimbulkan berbagai risiko, mulai dari kebakaran lahan, kerusakan rumah, hingga membahayakan keselamatan warga akibat petasan.

“Jangan sampai balon jatuh ke rumah atau lahan tebu yang bisa memicu kebakaran. Petasan juga bisa melukai orang. Harapannya kegiatan ini bisa mencegah hal-hal seperti itu,” imbuhnya.

Festival ini pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama kalangan anak muda. Salah satunya Danang Jauharul Afif, yang bersama kelompok remaja masjidnya membuat balon udara berdiameter sekitar 7 meter dan panjang 10 meter hanya dalam waktu empat hari.

“Pembuatannya sekitar empat hari. Tantangannya di presisi, terutama saat menggunting bahan. Kalau tidak presisi, bentuknya bisa tidak pas bahkan sobek,” jelas Danang.

Ia menilai festival ini menjadi wadah positif untuk menyalurkan kreativitas generasi muda sekaligus menghindari praktik balon liar yang berbahaya.

“Kalau balon liar saya kurang setuju, karena bisa jatuh ke kabel listrik atau rumah warga. Dulu pernah juga jatuh di sawah tebu sampai terbakar,” katanya.

Danang berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan mampu menginspirasi pemuda lain untuk berkarya dengan cara yang lebih aman.

“Harapannya anak-anak muda bisa lebih kreatif tapi tetap mematuhi aturan. Dengan adanya kegiatan ini, kreativitas jadi tersalurkan,” tambahnya.

Melihat tingginya antusiasme warga, Pemerintah Desa Notorejo berencana menjadikan Festival Balon Udara Mini sebagai agenda rutin tahunan setiap usai Lebaran. Cara sederhana ini pun terbukti mampu mengubah tradisi lama menjadi perayaan yang lebih aman, tanpa menghilangkan semangat kebersamaan masyarakat. (*)

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow