Fenomena Kulminasi Utama Buat Suhu Surabaya Menyengat, BMKG Sebut Panas Bisa Terasa Seperti 41 Derajat
Fenomena kulminasi utama membuat Surabaya terasa membara, suhu mencapai 36 derajat Celsius dan terasa hingga 41 derajat akibat radiasi matahari yang tegak lurus di atas kota.
SURABAYA, SJP - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menyebut fenomena kulminasi utama menjadi penyebab meningkatnya suhu udara di Surabaya dan sejumlah wilayah Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena ini terjadi karena posisi matahari tepat berada di atas wilayah Jawa Timur sehingga radiasi sinar matahari diterima secara maksimal oleh permukaan bumi.
Prakirawan BMKG Juanda, Oky Sukma Hakim, menjelaskan bahwa kondisi panas yang dirasakan warga disebabkan posisi matahari yang sedang berada tepat di atas lintang Jawa Timur.
"Gerak semu harian matahari itu dari 23,5 derajat lintang utara sampai 23,5 derajat lintang selatan. Nah, kebetulan saat ini lintang matahari tepat di atas Jatim. Kalau Surabaya itu di sekitar 7 derajat lintang selatan, jadi memang saat ini terasa panas," ujar Oky, Jumat (17/10/2025).
Menurut Oky, saat kulminasi utama, langit yang cerah dan minim awan menyebabkan sinar matahari langsung mengenai permukaan tanah tanpa penghalang, membuat suhu udara meningkat signifikan.
"Kondisi ini membuat radiasi sinar matahari diterima secara maksimal oleh permukaan bumi, terutama ketika langit cerah dengan sedikit awan. Itu sebabnya suhu udara meningkat dan terasa lebih panas," katanya.
Berdasarkan pengamatan BMKG, suhu udara di Surabaya telah mencapai 36 derajat Celsius, namun suhu yang dirasakan tubuh bisa mencapai 40 hingga 41 derajat Celsius akibat kelembapan udara yang tinggi.
"Suhu udara dan suhu yang dirasakan kulit manusia berbeda. Saat kelembapan tinggi, suhu yang dirasakan tubuh bisa jauh lebih panas," jelas Oky.
Ia menambahkan, faktor lokal seperti kepadatan bangunan juga membuat suhu di Surabaya lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Jawa Timur.
"Surabaya ini padat dengan sedikit lahan terbuka hijau, banyak bangunan dan penduduk, jadi faktor lokal ini juga meningkatkan suhu udara di kota Surabaya," tambahnya.
Hari Tanpa Bayangan
Fenomena kulminasi utama juga dikenal sebagai hari tanpa bayangan, karena posisi matahari tepat di atas kepala pengamat atau titik zenit. Pada saat itu, bayangan benda tegak menghilang karena bertumpuk dengan bendanya sendiri.
Prakirawan BMKG Juanda lainnya, Thariq Harun Al Rasyiid, menjelaskan bahwa fenomena ini menyebabkan peningkatan intensitas penyinaran matahari dan radiasi ultraviolet (UV).
"Cuaca panas yang dirasakan warga Jawa Timur belakangan ini disebabkan posisi matahari yang sedang berada tepat di atas wilayah Jawa Timur. Akibatnya, intensitas penyinaran dan radiasi ultraviolet meningkat, sehingga udara terasa lebih gerah dari biasanya," ujar Thariq.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai sejumlah dampak akibat suhu tinggi yang berkepanjangan. Cuaca terik dan kering dapat memicu kebakaran lahan, mempercepat pengeringan tanah, serta menurunkan ketersediaan air di sumber-sumber dangkal.
"Untuk dampaknya memang benar, mulai dari potensi kebakaran, kekeringan, hingga gangguan kesehatan akibat suhu yang tinggi," kata Thariq.
Dari sisi kesehatan, BMKG memperingatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dan paparan sinar ultraviolet berlebih.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meminimalkan aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari selama periode kulminasi utama berlangsung.
"Lebih ke paparan sinar ultraviolet ya, karena kalau terpapar dalam waktu cukup lama akan berbahaya untuk kulit manusia," katanya.
Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau untuk mengenakan pakaian tertutup, topi atau payung, serta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap tercukupi.
"Pastikan kebutuhan air minum harian terpenuhi sehingga terhindar dari dehidrasi," jelas Thariq.
Panas Masih Akan Berlangsung hingga Akhir Oktober
BMKG memperkirakan fenomena kulminasi utama ini akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025. Artinya, cuaca panas ekstrem masih akan terasa dalam dua pekan ke depan.
Hari ini, Jumat (17/10/2025) data BMKG secara nasional menunjukkan suhu maksimum di atas 35°C terpantau meluas di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan beberapa wilayah Papua.
Di sisi lain, peringatan cuaca dari Google Weather juga mencatat suhu di Surabaya mencapai 36°C dan terasa seperti 42°C, sejalan dengan data pengamatan BMKG Juanda yang menempatkan rentang suhu kota ini antara 29 hingga 36°C.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap paparan sinar UV tinggi dan dampak suhu ekstrem.
"Fenomena ini alami dan bersifat sementara, tapi masyarakat perlu berhati-hati terhadap dampaknya. Hindari paparan langsung di siang hari dan perbanyak konsumsi air," pungkas Thariq. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

