Exit Meeting Bareng BPK, RSUD dr H Koesnadi Terus Perkuat Penanganan TBC demi Keselamatan Pasien

Penanganan TBC di Bondowoso menunjukkan progres positif. Semester I 2025 tercatat 5.430 terduga kasus, 1.279 pasien sembuh, dan capaian pengobatan 91 persen. Dinkes bersama RSUD dr. H. Koesnadi perkuat surveilans, pencatatan, dan pengawasan obat.

26 Sep 2025 - 08:59
Exit Meeting Bareng BPK, RSUD dr H Koesnadi Terus Perkuat Penanganan TBC demi Keselamatan Pasien
Exit meeting BPK RI di peringgitan Pendopo Raden Bagus Assra yang membahas rekomendasi dan komitmen Pemkab Bondowoso dalam menekan penyebaran penyakit TBC (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI menggelar exit meeting bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk membahas penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC), Kamis (25/9/2025) kemarin, di peringgitan Pendopo Raden Bagus Assra.

Pertemuan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas stakeholder demi memperkuat langkah bersama mengatasi TBC, khususnya RSUD dr H Koesnadi dengan Dinas Kesehatan.

Salah satu pokok bahasan dalam pertemuan adalah integrasi sistem informasi rumah sakit dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Selain itu, BPK merekomendasikan renovasi fasilitas rawat inap agar pasien TBC tidak berisiko menulari pasien lain, serta menekankan penggunaan masker bagi keluarga yang menjaga pasien.

Direktur RSUD Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna, memastikan bahwa rumah sakit maupun puskesmas sudah memiliki ruang khusus bagi pasien TBC. Namun, ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat.

“Di rumah sakit maupun puskesmas sudah tersedia ruangan khusus untuk pasien TBC. Yang saat ini kami dorong adalah sosialisasinya, sebab masyarakat masih sering abai terhadap pentingnya memakai masker di fasilitas kesehatan,” ujarnya, dikonfirmasi Jumat (26/9/2025) di ruang kerjanya.

Lebih lanjut, dokter spesialis paru ini menegaskan, pasien TBC wajib menjalani pengobatan minimal enam bulan. Pihak rumah sakit maupun puskesmas aktif melakukan penelusuran pasien yang berhenti berobat.

“Kalau pengobatan tidak sampai enam bulan, penyakit ini bisa kambuh kembali. Jadi kami pastikan semua pasien harus menjalani pengobatan sampai tuntas,” jelasnya.

Di balik data medis itu, tersimpan kisah perjuangan para pasien. Salah satunya warga Bondowoso, yang harus bolak-balik ke puskesmas untuk menjemput obat. Meski tubuhnya lemah, ia tetap bersemangat demi kesembuhan.

“Kalau saya berhenti minum obat, bisa sakit lagi. Jadi walau jauh tetap saya usahakan,” katanya lirih.

Bagi direktur RSUD, cerita warga ini menjadi pengingat bahwa penanggulangan TBC bukan hanya soal fasilitas, tapi juga soal pendampingan. Semakin banyak kasus ditemukan, semakin besar pula peluang pasien untuk sembuh.

“Semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin banyak pula yang kita obati. Harapannya angka penderita TBC bisa terus menurun hingga Indonesia benar-benar bebas TBC di 2029,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Yus Priyatna, sistem surveilans dan pencatatan di Bondowoso sudah berjalan cukup baik. 

“Kita bekerja untuk melakukan surveilan ke semua puskesmas, ke semua masyarakat, dan termasuk pencatatan kita cukup baik. Jadi saat ini data di 4 rumah sakit swasta dan 25 puskesmas, sudah terlink semua dalam satu data,” jelasnya.

Ia menyebut, dari sisi sarana dan prasarana (Sarpas), Bondowoso sudah cukup siap. 

“Alhamdulillah kita cukup baik. Jadi sudah ada 7 mesin TCM (Tes Cepat Molekuler) dan 25 tenaga mikroskop di puskesmas,” tambahnya.

Dinkes Paparkan Grafik Temuan TBC

Hingga semester I 2025, capaian penemuan terduga TBC sudah mencapai 5.430 kasus, atau sekitar 53 persen dari target 10.229 kasus.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, Agus Winarno, menjelaskan bahwa meskipun capaian penemuan kasus baru belum setengahnya, progres di bidang lain cukup menggembirakan. 

“Untuk kasus TBC yang memulai pengobatan, dari target 698 kasus, sudah tercapai 638 kasus, atau 91,4 persen,” ungkapnya, Jumat (26/9/2025) di ruang kerjanya.

Sementara itu, untuk keberhasilan pengobatan, dari target 1.505 pasien, tercatat sudah ada 1.279 pasien yang berhasil sembuh, dengan capaian 84,98 persen. 

“Artinya, dari sisi pengobatan, capaian kita relatif tinggi,” jelas Agus.

Namun, untuk kasus TBC yang ditemukan dan dilaporkan, progres masih rendah. Dari target 2.105 kasus, hingga semester I baru ditemukan 698 kasus, atau 33,2 persen. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow