Diskoperindag Bondowoso Dorong UMKM Naik Kelas dan Buka Akses Ekspor

Diskoperindag Bondowoso menggencarkan pelatihan ekspor bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, membuka akses pasar internasional, serta mendorong pelaku usaha lokal mampu ekspor mandiri dan memberi nilai tambah bagi daerah.

18 May 2026 - 16:59
Diskoperindag Bondowoso Dorong UMKM Naik Kelas dan Buka Akses Ekspor
Ketua Dekranasda bersama Plt Asisten II saat meninjau produk UMKM di pekan PLUT UMKM (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar mampu naik kelas hingga menembus pasar global. Melalui pelatihan dan pendampingan ekspor, pelaku usaha lokal diharapkan tidak hanya mampu memproduksi barang berkualitas, tetapi juga memahami kebutuhan pasar internasional dan tata kelola ekspor secara mandiri.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto menegaskan, pelatihan yang digelar bukan sekadar meningkatkan keterampilan teknis, melainkan juga membuka wawasan dan jejaring bisnis bagi para pelaku UMKM.

“Kalau secara mentalitas dan kualifikasi sudah masuk, otomatis UMKM kita bisa naik kelas sampai tingkat global. Yang penting meningkatkan kualitas dan membuka wawasan agar mampu bersaing secara internasional,” ujarnya, usai pembukan Pekan PLUT UMKM, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan utama yang selama ini dihadapi UMKM adalah minimnya pemahaman mengenai mekanisme ekspor. Banyak pelaku usaha menganggap ekspor sebagai sesuatu yang rumit, mulai dari proses kurasi produk hingga administrasi dan sertifikasi.

Karena itu, pihaknya kini fokus memberikan pemahaman menyeluruh terkait tahapan ekspor, mulai dari kualitas produk, pencarian pasar, legalitas, hingga strategi pemasaran luar negeri.

“Harus ada link antara produk unggulan Bondowoso dengan pasar luar negeri. Produk kita juga harus sesuai dengan kebutuhan konsumen internasional. Ini yang tidak mudah,” katanya.

Ia menjelaskan, produk lokal Bondowoso sebenarnya memiliki potensi besar di pasar global. Beberapa komoditas bahkan telah berhasil menembus pasar luar negeri, seperti arang, kopi, hingga sambal kecombrang.

“Produk-produk lokal justru sekarang banyak diminati. Bahkan ada produk Bondowoso yang dibeli pengusaha besar lalu dijual kembali memakai merek mereka sendiri. Akibatnya nilai tambahnya tidak kembali ke Bondowoso,” ungkap Hergiar.

Saat ini, pasar ekspor produk UMKM Bondowoso masih didominasi negara Malaysia dan kawasan Timur Tengah. Namun sebagian besar ekspor masih dilakukan melalui agregator atau jasa titip karena pelaku UMKM belum sepenuhnya mampu melakukan ekspor mandiri.

“Harapannya nanti UMKM kita memahami legalitas, administrasi, dan pasar, sehingga bisa ekspor sendiri dan nilai tambahnya tetap ada di Bondowoso,” tambahnya.

Berdasarkan data Diskoperindag tahun 2023, jumlah UMKM di Bondowoso mencapai sekitar 40 ribu unit usaha. Namun dari jumlah tersebut, diperkirakan kurang dari 50 UMKM yang pernah melakukan ekspor, itupun sebagian besar masih bersifat tidak langsung.

Menurutnya, rendahnya jumlah UMKM eksportir dipengaruhi persoalan mindset. Banyak pelaku usaha masih menganggap ekspor itu sulit, rumit, dan membutuhkan modal besar.

Karena itu, Diskoperindag juga mulai menggandeng perbankan agar pelaku UMKM memiliki akses pembiayaan yang memadai sehingga tidak hanya menjual produk mentah secara cepat, tetapi mampu meningkatkan nilai tambah produk sebelum dipasarkan ke luar negeri.

“Yang penting sekarang bagaimana produk Bondowoso bisa match dengan kebutuhan pasar internasional. Kalau itu bertemu, peluang ekspor kita sangat besar,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow