Dinsos P3AKB dan Fatayat NU Perkuat Sinergi Pencegahan Kasus PPA di Bondowoso

Dinsos P3AKB dan Fatayat NU Bondowoso memperkuat kolaborasi dalam pencegahan kekerasan dan pernikahan usia dini melalui edukasi, pendampingan, serta program Pesantren Ramah Anak. Kerja sama lintas lembaga diperluas untuk meningkatkan deteksi dini dan perlindungan perempuan-anak.

22 Nov 2025 - 18:04
Dinsos P3AKB dan Fatayat NU Perkuat Sinergi Pencegahan Kasus PPA di Bondowoso
Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, M Imron bersama Ketua PGRI, Ketua Fatayat Ketua TP PKK dan perwakilan dari Kemenag, saat berfoto bersama usai menandatangani kerja sama dalam sinergi pencegaran kekerasan terhadap perempuan dan anak di Pendopo Raden Bagus Assra, Sbatu (22/11/2025). (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Komitmen memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak di Bondowoso kembali ditegaskan melalui kerja sama antara Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) bersama Fatayat NU. 

Penguatan sinergi ini menjadi tindak lanjut dari kolaborasi yang selama ini telah berjalan dan kembali ditegaskan pada acara Pelantikan PAC Fatayat NU se-Kabupaten Bondowoso di Pendopo Raden Bagus Assra, Sabtu (22/11/2025).

Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, Muhammad Imron, dalam kesempatan tersebut menyampaikan, upaya perlindungan hanya dapat berjalan optimal melalui kerja bersama semua elemen, termasuk organisasi perempuan dan keagamaan seperti Fatayat NU. 

Menurutnya, pendampingan dalam kasus kekerasan membutuhkan jaringan luas karena perangkat daerah memiliki keterbatasan sumber daya manusia di lapangan.

“Pencegahan, pendampingan, dan penanggulangan harus dilakukan bersama. Mulai dari kesehatan korban, kondisi psikologis, hingga penguatan di tingkat masyarakat. Selama ini berjalan baik dengan perangkat daerah, NGO, dan organisasi keagamaan, termasuk Fatayat,” ujarnya.

Imron menegaskan, Dinsos P3AKB tidak dapat bekerja sendiri. Ketika terjadi kasus kekerasan, baik fisik maupun seksual, jangkauan pemerintah sering kali terbatas. Di sinilah peran penting organisasi mitra, termasuk Fatayat NU dan jaringan relawan lainnya.

“Ketika ada kasus, teman-teman di lapangan bisa bergerak lebih cepat. Mereka yang memberi data awal, info awal, sekaligus pendampingan langsung kepada korban. Kita berdiri bersama, bukan di depan atau belakang, tetapi sejajar,” katanya.

Ia juga menyoroti peningkatan laporan kasus kekerasan yang melibatkan tenaga pendidik di beberapa sekolah. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi semakin penting. Dinsos P3AKB disebut terus berkoordinasi dengan Kacabdin dan Dinas Pendidikan untuk mendorong pengawasan, edukasi, dan deteksi dini terhadap potensi kekerasan.

Imron menekankan bahwa pencegahan harus diperkuat melalui edukasi langsung kepada siswa, guru, serta para pendidik di lingkungan keagamaan. Ia mengingatkan, kasus kekerasan tidak boleh dibiarkan berulang.

“Kita lakukan edukasi agar oknum-oknum yang berpotensi melakukan kekerasan bisa terdeteksi lebih dini. Pencegahan itu penting, supaya kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Kerja sama Dinsos P3AKB dengan Fatayat NU disebut akan diperkuat melalui berbagai kegiatan pendampingan, pelatihan, respon cepat kasus, dan penguatan jejaring perempuan di tingkat kecamatan hingga desa. 

“Kami berharap Fatayat NU yang baru dilantik dapat mempercepat layanan perlindungan perempuan dan anak di Bondowoso,” harap mantan Kepala Dinas Kesehatan ini.

Sementara itu, Ketua Fatayat NU Bondowoso, Liniatul Ma’lufah menegaskan komitmennya melanjutkan program-program strategis organisasi, terutama terkait pemberdayaan perempuan dan pencegahan pernikahan usia dini.

“Kami meneruskan program sebelumnya, yaitu pemberdayaan perempuan untuk meminimalkan pernikahan usia dini dan menekan angka kekerasan,” ujarnya usai pelantikan PAC Fatayat NU.

Ia menjelaskan, Fatayat NU telah menjalin kerja sama dengan Pengadilan Agama, Dinsos P3AKB, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga PGRI. Salah satu program prioritas adalah ‘Pesantren Ramah Anak’, yang mendorong pesantren lebih aman dan bebas dari perundungan serta kekerasan antar-santri.

Workshop Pesantren Ramah Anak disebut telah berjalan di Pesantren di Sumber Kemuning, Tamanan, dan akan diperluas ke pesantren lain. Selain di pesantren, Fatayat juga menggerakkan edukasi di sekolah.

“Kemarin kami sudah mengadakan parenting di salah satu sekolah menengah pertama. Program ini berkelanjutan, tidak hanya hari ini saja,” pungkasnya.

Seprti diketahui, sampai bulan Oktober 2025, Dinsos P3AKB Bondowoso mencatat ada total 56 kasus di Bumi Ki Ronggo yang terbagi dari berbagai kasus kekerasan pada perempuan dan anak, bullying, persetubuhan, perkelahian dan pencabulan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow