Dinsos P3AKB Bondowoso Ajak Orang Tua Awasi Anak Agar Tak Ketergantungan Gadget, Berikut Tipsnya

Urgensi positive parenting dalam memberikan batasan screen time gadget bagi anak berdasarkan usia, menjadi cara ampuh untuk menghindari anak dari hal negatif akibat ketergantungan gawai.

27 Jan 2025 - 15:15
Dinsos P3AKB Bondowoso Ajak Orang Tua Awasi Anak Agar Tak Ketergantungan Gadget, Berikut Tipsnya
Ilustrasi anak bermain gawai (Foto : Freepik)

BONDOWOSO, SJP – Ketergantungan anak bermain gawai harus disikapi serius oleh orang tua. Mengingat, baru-baru ini beredar ada seorang anak di Kabupaten Jember yang tega menyembelih ayahnya sendiri, lantaran diduga kecanduan game online.

Jika membahas game online, tentu hal ini tidak terlepas dari peran gawai dalam mengoperasikannya. Selain nantinya berakibat negatif pada perkembangan anak, hal ini juga akan berdampak jelek bagi kesehatan mental dan tubuh anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain gadget.

Menyikapi hal itu, peran aktif orang tua dalam memberikan batasan screen time gadget kepada anak, sangat diperlukan. Namun, orang tua juga tidak boleh diktator kepada anak, tetapi harus bijak dalam memberikan batasan berdasarkan usia anak.

Urgensi Positive Parenting

Urgensi positive parenting dalam memberikan batasan screen time gadget bagi anak berdasarkan usia, menjadi cara penting yang dilakukan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso.

Kepala Dinsos P3AKB, Anisatul Hamidah melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Hafidatullaily, mengatakan, positive parenting sangat penting dilakukan dalam era digital.

Hal itu selalu disosialisasikan oleh Dinsos P3AKB melalui berbagai kegiatan, baik secara offline, maupun dengan dialog interaktif dengan para orang tua di Kabupaten Bondowoso, melalui siaran radio. 

Dirinya mengurai, positive parenting merupakan pendekatan pengasuhan yang mendorong hubungan positif, komunikasi terbuka, dan disiplin berbasis kasih sayang, yang perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan di era digital.

“Gadget telah menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari, tetapi penggunaannya yang tidak terkontrol berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan perkembangan sosial anak. Jadi, perlu peran orang tua sebagai teladan dalam membentuk kebiasaan digital sehat,” katanya, Senin (27/1/2025).

Risiko Ketergantungan Bermain Gadget

Perempuan berhijab ini juga menerangkan dampak negatif penggunaan gadget berlebihan pada anak, yang menyerang fisik, psikologis dan aspek sosial anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak berisiko obesitas, gangguan penglihatan dan tidur. Psikologisnya semakin ketergantungan gadget, penurunan kemampuan konsentrasi, dan potensi stres. Di aspek sosial, si anak kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar, isolasi sosial, dan kesulitan membangun empati,” jelasnya.

Bijak Batasi Screen Time Sesuai Usia

Kepada para orang tua, dirinya mengajak untuk memberikan batasan screen time kepada anak, berdasarkan usia. Sehingga, orang tua bisa memilah kebutuhan anak sejak usia 1 - 18 tahun dalam menggunakan gadget.

“Tentunya berbeda-beda sesuai umurnya. Bayi (0-2 tahun) harus terhindar dari paparan layar, fokus pada stimulasi sensorik langsung dan interaksi dengan orang tua,” jelas lulusan Universitas Muhammadiyah Jember ini.

Dirinya juga menjabarkan, untuk usia anak 2 - 5 tahun, maksimal 1 jam per hari dengan konten berkualitas tinggi yang didampingi oleh orang tua. Anak usia 6-12 tahun, maksimal 2 jam per hari dengan menyeimbangkan dengan aktivitas fisik dan sosial.

“Sedangkan, untuk remaja usia 13-18 tahun, berikan fleksibilitas, tetapi tetap ada batasan waktu dan kontrol terhadap konten yang ditonton oleh anak kita. Ini penting dan harus diawasi,” imbuhnya kepada suarajatimpost.com.

Perlu Konsistensi dan Edukasi dari Orang Tua

Setelah memahami batasan itu sesuai usia, orang tua diharapkan memiliki strategi khusus sebagai teladan bagi anak. Bahkan, bisa membuat kesepakagan keluarga dan mengalihkan anak untuk beraktivitas.

“Batasi penggunaan gadget di depan anak untuk menjadi role model dan atur jadwal penggunaan gadget bersama anak. Misalnya, ‘screen free zone’ saat makan atau sebelum tidur,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Lely ini.

Konsistensi penerapan, juga menjadi hal penting dalam menjaga anak agar tidak salah dalam menggunakan gawai. Kata Lely, orang tua harus bisa memastikan aturan untuk diterapkan secara konsisten dalam menciptakan kebiasaan baik kepada anak.

“Gunakan pendekatan positif, dengan menghindari ancaman atau hukuman. Kemudian, gunakan penjelasan dan ajak anak memahami manfaat batasan screen time,” ungkapnya.

Bangun Sinergi dalam Keluarga 

Pembatasan waktu penggunaan gadget pada anak, lanjutnya, harus diimbangi dengan pendampingan orang tua terhadap konten digital. Orang tua harus bisa mengawasi pemilihan konten, menggunakan fitur orang tua dan mengajarkan literasi digital kepada anak.

“Pastikan anak mengakses konten yang edukatif, sesuai usia, dan aman. Manfaatkan teknologi untuk membatasi akses ke konten yang tidak sesuai dengan pengaturan kontrol orang tua serta edukasi anak untuk menggunakan gadget dengan bijak dan bertanggung jawab,” tukasnya.

Permasalahan yang terjadi pada anak, kata perempuan berkacamata ini, harus diantisipasi sejak dini, bersama-sama dengan melibatkan peran pemerintah dan orang tua. Hal yang paling dasar adalah membangun sinergi positif dalam keluarga.

“Hubungan keluarga yang harmonis dan komunikasi yang sehat adalah kunci sukses menerapkan batasan screen time. Jadikan gadget sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi langsung dalam keluarga, sehingga generasi digital yang sehat, cerdas, dan bijaksana bisa terwujud,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow