Dinkes Tulungagung Temukan 8 Pasien Malaria, Seluruhnya Kasus Impor
Kasus malaria terbesar adalah pada tahun 2023, yaitu sebanyak 23 kasus. Kemudian di tahun 2024 turun menjadi 21 kasus
TULUNGAGUNG, SJP - Di tahun 2025 ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung mencatat, sampai dengan bulan Mei ditemukan 8 kasus warga yang terjangkit penyakit malaria. Namun, Tulungagung bukanlah wilayah endemis malaria, karena dari seluruh kasus yang ditemukan sumbernya berasal dari luar daerah.
Kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, mengatakan, keseluruhan kasus malaria di Tulungagung adalah impor. Menurutnya selama ini belum pernah ditemukan kasus malaria murni terjangkit di wilayah Tulungagung.
"Sebagian besar adalah penduduk yang baru datang bekerja dari wilayah endemis malaria yaitu Papua dan Kalimantan," ujar Desi.
Desi merinci 8 kasus malaria yang ditemukan tersebut tersebar di 5 wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Besuki, Ngunut, Kedungwaru, Boyolangu, dan Gondang.
Sedangkan satu kasus lainnya berasal dari luar wilayah kabupaten, tetapi dirawat di Tulungagung. Kemudian untuk jenisnya, terbanyak adalah malaria Vivax dengan derajat sakit keseluruhan tanpa komplikasi.
"Insyaallah semuanya tertangani dengan baik tidak ada kasus meninggal akibat malaria," tuturnya.
Lanjut Desi, kasus malaria terbesar adalah pada tahun 2023, yaitu sebanyak 23 kasus. Kemudian di tahun 2024 turun menjadi 21 kasus. Desi menyatakan jika sampai dengan Mei 2025 tercatat 8 kasus, dimungkinkan tren kasus malaria di tahun ini cenderung menurun. Hal tersebut terjadi karena seluruh kasus malaria yang ditemukan adalah impor.
"Jadi kalau semakin banyak orang yang bermigrasi ke daerah endemis malaria, ya ada kemungkinan tren naik ketika dia kembali membawa malaria," lanjutnya.
Meski belum pernah ditemukan kasus malaria yang murni dari wilayah Tulungagung, namun hingga saat ini belum eradikasi atau dinyatakan malaria benar-benar hilang dari Tulungagung. Setiap kali ada temuan kasus malaria yang berpotensi ada penularan disitu, pihak Dinkes Tulungagung langsung melakukan penyelidikan epidemiologi.
Menurut Desi perindukan nyamuk pembawa penyakit malaria berada di wilayah pesisir, tempat bertemunya air tawar dan air laut. Desi mencontohkan salah satu lokasi yang dicurigai berpotensi menjadi tempat perindukan malaria di Tulungagung adalah di Pantai Klathak, dimana disitu terdapat pertemuan air sungai dan air laut.
"Kita ada berkala melakukan pengecekan disana untuk mencari perindukan nyamuk disitu," pungkas Desi. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

