Dindik Malang Jadikan Program KEJAR dan RABU Bekal Kemandirian Finansial Pelajar
Dinas Pendidikan Kabupaten Malang menyiapkan validasi data peserta didik sebagai tindak lanjut Program KEJAR dan RABU untuk memperkuat pendidikan karakter dan literasi finansial di sekolah.
MALANG, SJP – Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Malang memastikan akan menindaklanjuti pelaksanaan Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) dan Rajin Menabung (RABU) dengan melakukan validasi data peserta didik secara menyeluruh.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus memperluas literasi finansial bagi pelajar di Kabupaten Malang bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang dan Bank Indonesia (BI).
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Bagus Sulistyawan, mengatakan validasi akan dilakukan terhadap sekitar 31 ribu data peserta didik menggunakan metode by name by address. Pendataan mencakup jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK hingga madrasah agar kebijakan yang disusun benar-benar tepat sasaran.
"Data tersebut akan kami validasi dengan melihat kondisi riil setiap anak, termasuk yang berpindah domisili, sudah bekerja, menikah maupun penyandang disabilitas. Dengan begitu penanganannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing," ujar Bagus belum lama ini.
Ia menjelaskan, proses validasi akan melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta perangkat daerah terkait untuk mengetahui penyebab anak tidak bersekolah. Setelah itu, Dinas Pendidikan bersama instansi lain akan menentukan solusi pendidikan yang paling sesuai, baik melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan di PKBM.
"Kami tidak ingin berhenti pada angka. Target kami menemukan akar persoalan mengapa anak tidak sekolah, kemudian menghadirkan solusi pendidikan yang tepat sesuai kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah," tegasnya.
Sementara itu, Selasa lalu (30/6/2026), Bupati Malang, Sanusi, menegaskan bahwa Program KEJAR dan RABU tak hanya mendorong pelajar memiliki rekening tabungan.
Program tersebut juga menjadi sarana membangun budaya menabung, meningkatkan literasi keuangan, serta membentuk karakter disiplin dan mandiri sejak usia sekolah.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuat anak-anak semakin dekat dengan layanan keuangan. Karena itu, kemampuan mengelola keuangan perlu ditanamkan sejak dini agar mereka mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta terhindar dari perilaku konsumtif maupun praktik keuangan ilegal.
Menurutnya, literasi dan inklusi keuangan merupakan bekal penting yang harus dimiliki generasi muda. Pendidikan finansial bukan hanya mengajarkan cara memperoleh uang, tetapi juga bagaimana mengelola dan merencanakan keuangan secara bijaksana.
Melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Malang, OJK, Bank Indonesia, lembaga perbankan, dan satuan pendidikan, Program KEJAR dan RABU diharapkan mampu membentuk pelajar yang cakap mengelola keuangan sekaligus memiliki karakter mandiri sebagai bekal menghadapi tantangan masa mendatang. (**)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

