Dilema Fasilitas Publik: Antara Kemudahan dan Tantangan Keamanan Super Koridor Wi-Fi Probolinggo

Warga Kota Probolinggo kini punya fasilitas baru "Super Koridor Wifi Gratis" dari Pemkot Probolinggo! Fasilitas ini bisa diakses 24 jam sepanjang Jalan Suroyo dan HOS Cokroaminoto. Beberapa mengapresiasi karena aksesnya sangat mudah & tanpa password. Namun, ada juga catatannya, yakni masalah kecepatan. Sebagian warga mengeluhkan koneksi yang masih lambat untuk streaming.

05 Feb 2026 - 22:03
Dilema Fasilitas Publik: Antara Kemudahan dan Tantangan Keamanan Super Koridor Wi-Fi Probolinggo
Ilustrasi internet lambat.

PROBOLINGGO, SJP - Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) secara resmi telah menghadirkan fasilitas internet gratis bertajuk "Super Koridor Suroyo-Cokroaminoto".

Layanan yang membentang di sepanjang jalur utama Jalan Suroyo hingga Jalan HOS Cokroaminoto ini dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan digital warga di pusat kota. Meski aksesibilitas yang ditawarkan sangat mudah tanpa memerlukan kata sandi, kehadiran fasilitas ini memicu beragam reaksi dari masyarakat, mulai dari apresiasi hingga kekhawatiran yang mendasar.

Kemudahan akses menjadi nilai plus utama yang dirasakan oleh warga. Keberadaan jaringan bernama "Diskominfo Free Wifi" ini mulai disadari oleh warga yang beraktivitas di sekitar lokasi tersebut.

Salah satunya adalah Sofyan, seorang pemuda asal Jrebeng Lor. Saat sedang menunggu kerabatnya, ia mencoba memanfaatkan fasilitas ini dan terkesan dengan proses penyambungan yang instan.

"Baru tahu kalau ada WiFi gratis. Tadi saya coba, namanya 'Diskominfo Free Wifi'. Langsung terhubung, sangat mudah," ujar Sofyan pada Kamis (4/2/2026).

Kendati demikian, pengalamannaya menunjukkan bahwa kuantitas akses belum dibarengi dengan kualitas kecepatan yang mumpuni.

"Pas dicoba buat buka YouTube agak lemot, masih muter terus, tapi bisa. Ini bagus sih, kalau lagi nongkrong di Suroyo bisa internetan gratis," tambahnya.

Persoalan stabilitas koneksi ini pula yang membuat sebagian masyarakat yang sangat bergantung pada kestabilan internet memilih untuk tetap menggunakan paket data pribadi.

Danu, seorang pengemudi ojek daring, mengungkapkan skeptisismenya terhadap jaringan publik tersebut. Bagi pekerja sektor ekonomi digital seperti dirinya, risiko keterlambatan data bisa berdampak langsung pada penghasilan.

"Sudah tahu, tapi lemot. Jadi tidak saya sambungkan ke ponsel saya. Takutnya nanti malah orderan tidak masuk kalau jaringannya tidak stabil. Saya tetap pakai kuota bulanan sendiri saja," ungkapnya.

Di luar urusan teknis kecepatan, aspek keamanan siber menjadi momok bagi warga lainnya. Muncul kekhawatiran mengenai kerentanan data pribadi saat perangkat terhubung ke jaringan terbuka.

Lalu, warga Kanigaran, merefleksikan ketakutan kolektif masyarakat terhadap potensi kejahatan perbankan digital.

"Saya tahu di Jalan Cokro ada wifi, tapi takut mau nyambung. Katanya kalau WiFi publik itu rawan, m-banking kita bisa kebobol ya? Jadi saya mending tidak ikut-ikutan mencoba, cari aman saja," tuturnya dengan ragu.

Super Koridor ini sejatinya merupakan langkah progresif Pemkot dalam mewujudkan Smart City yang beroperasi 24 jam. Namun, suara-suara dari lapangan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah. Tantangan ke depan bukan hanya soal ketersediaan infrastruktur, melainkan juga bagaimana meningkatkan performa jaringan serta menjamin keamanan data pengguna agar masyarakat dapat menikmati fasilitas publik ini tanpa rasa cemas. (**)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow