Di Bawah Rintik Hujan, 1.774 Anak Bondowoso Menari Totta’an Dhara untuk Cinta Budaya

Sebanyak 1.774 siswa dari sembilan SD di Bondowoso menari dalam “Gebyar Tari Totta’an Dhara” sebagai bagian pembelajaran kokurikuler cinta budaya lokal, menanamkan nilai identitas, kebanggaan, dan cinta tanah air sejak dini.

14 Feb 2026 - 10:29
Di Bawah Rintik Hujan, 1.774 Anak Bondowoso Menari Totta’an Dhara untuk Cinta Budaya
Ribuan siswa SD saat menari Totta'an Dhara di tengah rintik hujan di Alun-alun Raden Bagus Assra Ki Ronggo Bondowoso. Mereka tampak antusias mempresentasikan filosofi tradisi melepas burung merpati, atau bahasa mduranya

BONDOWOSO, SJP – Pagi yang diiringi hujan dan membasahai Alun-alun Raden Bagus Asra Ki Ronggo, pada Sabtu (14/2/2026), terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Semilir angin dingin dengan aroma lumpur di pusat kota Bondowoso itu, tak menyurutkan niat dari ribuan siswa sekolah dasar untuk menari.

Ribuan siswa sekolah dasar yang termasuk dalam Gugus 1 ini mengenakan busana tari bernuansa putih dengan topi burung yang khas dengan karakter burung merpati atau disebut burung dhara. 

Selendang warna merah juga tampak menyala memberikan tanda sebuah filosofi yang mendalam, melampaui sekadar fungsi estetika sebagai properti tari. Warna merahnya melambangkan keberanian, energi dan semangat pada setiap siswa SD yang tengah menyelesaikan puncak pembelajaran kokurikuler.

Mereka berbaris rapi, wajah-wajah kecil itu tampak antusias menanti giliran tampil dalam Pembelajaran Kokurikuler Cinta Budaya Lokal Bondowoso bertajuk “Gebyar Tari Totta’an Dhara”, sebuah tarian yang menceritakan tradisi pelepasan burung merpati yang menjadi kearifan lokal Bumi Ki Ronggo.

Sebanyak 1.774 pelajar dari sembilan sekolah dasar ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari SDN Dabasah 1, SDN Dabasah 2, SDN Dabasah 3, SDN Dabasah 4, SDN Dabasah 5, SDN Tamansari 1, SDN Tamansari 2, SDK Indra Siswa, dan SD Alifya.

Proses Menanam Nilai Cinta Budaya Lokal

Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, menyampaikan, kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan tari massal, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang dirancang untuk menanamkan nilai cinta budaya lokal sejak dini.

“Sebanyak 1.774 pelajar terlibat dalam kegiatan tarian reguler ini dengan semangat melestarikan budaya lokal, khususnya tari Totta’an Dhara. Kenapa memilih tari ini? Karena ini budaya asli Bondowoso yang harus kita junjung tinggi,” ujarnya.

Pengenalan budaya kepada anak-anak tidak boleh berhenti pada aspek gerakan semata. Ada nilai filosofis yang jauh lebih penting untuk dipahami.

“Ini bukan persoalan tariannya saja, tetapi filosofi makna dari tarian itu. Yang paling utama adalah cinta budaya lokal. Ketika kita cinta budaya lokal, bisa dipastikan kita akan cinta tanah air. Karena lokalitas itu bagian dari bangsa ini,” jelas Sekda.

Tak hanya itu, derasnya arus budaya luar yang masuk menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Tanpa penguatan karakter dan identitas budaya, anak-anak dikhawatirkan akan tercerabut dari akar budayanya sendiri.

“Anak-anak kita perlu dikenalkan sejak dini agar tidak tergerus dari sisi culture-nya, dari sisi budayanya, oleh budaya luar yang masuk. Harapannya mereka lebih mengenal budayanya sendiri, bangga terhadap jati dirinya sebagai orang Bondowoso,” tambah ASN asal Kabupaten Probolinggo ini.

Filosofi Tarian Inspirasi dari Tradisi

Kegiatan bertajuk “Gebyar Tari Totta’an Dhara” ini juga terinspirasi dari tradisi lokal Totta’an Dhara yang telah lama hidup di tengah masyarakat Bondowoso. Tradisi Totta’an Dhara merupakan tradisi melepaskan merpati (dhara) secara massal sebagai simbol rasa syukur, kesetiaan, dan perdamaian. 

“Biasanya tradisi ini dilakukan petani sebelum panen padi atau oleh komunitas pecinta burung, dengan menerbangkan ratusan hingga ribuan merpati berhias yang terlatih untuk kembali ke kandang,” jelasnya menceritakan filososi tarian Totta’an Dhara.

Baginya, nilai-nilai dalam tradisi tersebut selaras dengan semangat pendidikan karakter yang ingin ditanamkan melalui pembelajaran kokurikuler.

“Ini bukan sekadar event. Ini bagian dari kokurikuler. Dalam pembelajaran itu ada intrakurikuler, yaitu mata pelajaran di sekolah. Ada ekstrakurikuler seperti pramuka. Dan ada kokurikuler, yakni penugasan yang menjadi bagian dari proses pembelajaran,” paparnya.

Ia menegaskan, kegiatan ini memiliki keberlanjutan dan bukan berhenti pada perayaan satu hari.

“Artinya ini ada keberlanjutannya. Bukan hanya sekadar hari ini selesai. Ini sebuah proses pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai cinta budaya lokal. Event hari ini adalah puncak ekspresi dari proses itu,” tuturnya.

Di tengah alunan musik dan gerak serempak para siswa, Alun-alun seolah menjadi ruang belajar terbuka. Bukan hanya tentang seni tari, tetapi tentang identitas, kebanggaan, dan harapan.

“Semoga generasi muda Bondowoso bisa tumbuh dengan karakter kuat, berakar pada budaya sendiri, dan tetap tegak menghadapi perubahan zaman,” tandasnya.

Budaya Lokal Lainnya Juga Jadi Sasaran

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, menyampaikan, pengenalan budaya lokal memang dirancang menjadi bagian penting dalam pembelajaran semester ini.

“Belajar budaya harus sejak dini. Tarian ini merupakan salah satu ikon seni Bondowoso. Jadi, tidak hanya Totta’an Dhara yang dipelajari, tetapi juga seni-seni lokal lainnya. Ada Remo Sutina, ada Tong-tong. Masing-masing gugus silakan memilih. Kebetulan gugus satu memilih Totta’an Dhara,” terangnya.

Ia menjelaskan, selain Totta’an Dhara, ada pula gugus yang mengangkat tema molong kopi, petik kopi, dan kekayaan tradisi lokal lainnya sesuai karakter wilayah masing-masing.

“Pesertanya ada 1.774 siswa. Ini bukan kegiatan sekali selesai. Ini pembelajaran yang terus berproses. Sekarang ini adalah gebyarnya. Sudah berjalan satu semester dan rutin dilaksanakan pada jam kokurikuler. Kebetulan tema semester ini adalah budaya lokal,” ungkap mantan staf ahli Bupati Bondowoso ini.

Taufan juga menambahkan bahwa melalui pembelajaran ini, siswa diajak memahami asal-usul dan cerita di balik seni yang dipelajari.

“Nanti anak-anak juga dikenalkan cerita dari Totta’a Dhara itu sendiri, dari Bondowoso itu asalnya dari mana, maknanya apa, dan nilai apa yang bisa diambil,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow