Dari Gerobak Cilok ke Tanah Suci, Kisah Perjuangan Lansia 85 Tahun Asal Pasuruan
Di usia 85 tahun, penjual cilok keliling asal Pasuruan ini akhirnya berangkat haji setelah bertahun-tahun menabung dari penghasilan harian Rp50 ribu, membuktikan tekad mampu mengalahkan keterbatasan.
SURABAYA, SJP — Memasuki hari-hari awal pemberangkatan haji Embarkasi Surabaya 2026, beragam kisah inspiratif mulai bermunculan dari para jemaah. Di balik ribuan orang yang berangkat ke Tanah Suci, terselip cerita perjuangan panjang yang sarat makna, salah satunya datang dari seorang penjual cilok keliling asal Kota Pasuruan.
Adalah Mislicha Kasib (85), jemaah tertua di Kloter 10 Embarkasi Surabaya, yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk menunaikan ibadah haji.
Sehari-hari, Mislicha berjualan cilok keliling di wilayah Kecamatan Bugul Kidul, Pasuruan. Dari usaha sederhana itu, ia menyusun mimpi besarnya sedikit demi sedikit, menabung dengan disiplin selama bertahun-tahun.
Dengan penghasilan harian sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu, Mislicha menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap hari untuk tabungan haji. Ia juga mengikuti arisan sebagai tambahan ikhtiar mengumpulkan biaya.
Upaya yang tampak kecil itu, jika dilakukan secara konsisten, akhirnya membuahkan hasil. Pada 2017, ia berhasil mendaftar haji dengan setoran awal sebesar Rp25 juta.
Perjalanan hidup Mislicha sendiri tidaklah mudah. Setelah ditinggal wafat suaminya, ia harus membesarkan delapan anak seorang diri. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Di tengah keterbatasan, ia tetap bekerja, menabung, dan menjaga tekad untuk suatu hari bisa berangkat ke Tanah Suci.
Kini, di usia 85 tahun, kesempatan itu akhirnya tiba. Mislicha tergabung dalam Kloter 10 dan tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Kamis (23/4/2026). Terkini, ia telah berangkat menuju Tanah Suci pada Jumat (24/4/2026) malam kemarin melalui Bandara Internasional Juanda bersama rombongan jemaah lainnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Haji, Abdul Haris mengungkapkan bahwa perjalanan Mislicha tidak sendiri. Ia didampingi putri bungsunya, Mariatul Kibtiyah (35), yang turut berangkat melalui skema penggabungan mahram setelah mendaftar pada 2020.
"Iya, kemarin malam sudah berangkat, dan didampingi sang anak yang akan membantu aktivitas ibadah di tanah suci," ujar Haris, Sabtu (25/4/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Haris juga menegaskan bahwa keberangkatan kloter 10 berlangsung dalam kondisi penuh tanpa kursi kosong.
"Kloter 10 juga berangkat dalam kondisi penuh tanpa open seat. Semoga seluruh jamaah diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah haji," tandas Haris.
Embarkasi Surabaya terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah, termasuk kelompok lanjut usia seperti Mislicha. Berbagai skema pendampingan dan fasilitas disiapkan untuk memastikan para jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Di tengah ribuan jemaah yang diberangkatkan tahun ini, kisah seorang penjual cilok berusia 85 tahun itu menjadi pengingat bahwa panggilan haji bisa datang kepada siapa saja,bbahkan dari mereka yang memulainya dengan langkah kecil, namun penuh tekad, disiplin, dan keyakinan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

