Dari Gagal Impor Sayur ke Cuan Rp 800 Juta, Peternak Murai Batu Surabaya Panen Rezeki

Bangkit dari kegagalan usaha, peternak murai batu di Surabaya sukses meraup omzet hingga Rp 800 juta dari burung mutasi langka yang diminati pasar Asia Tenggara.

01 Feb 2026 - 20:21
Dari Gagal Impor Sayur ke Cuan Rp 800 Juta, Peternak Murai Batu Surabaya Panen Rezeki
Dari kegagalan usaha hingga sukses beternak murai batu mutasi langka yang tembus pasar Asia. (Foto: Agung Darmono/beritasatu.com)
SURABAYA, SJP - Siapa sangka, kicau merdu burung murai batu bisa menjadi jalan bangkit dari kegagalan sekaligus sumber cuan bernilai ratusan juta rupiah. Di Surabaya, Andik Lalang Kibar membuktikan bahwa hobi yang ditekuni dengan serius mampu menjelma menjadi ladang rezeki yang menjanjikan.
Sebelum dikenal sebagai peternak murai batu, Andik sempat menjalankan usaha impor sayur gulung. Namun, usaha tersebut harus kandas di tengah jalan. Alih-alih terpuruk, Andik memilih beralih ke dunia yang sejak lama ia gemari: memelihara dan membudidayakan burung kicau.
Pada 2016, ia memulai peternakan murai batu dengan modal sederhana, hanya dua pasang indukan. Saat itu, langkah Andik lebih didorong oleh hobi ketimbang ambisi bisnis besar. Namun, ketekunan dan konsistensi perlahan membuka peluang yang tak disangka-sangka.
Kini, hampir satu dekade berselang, usaha ternak murai batu yang dijalankan Andik berkembang pesat. Ia memiliki sekitar 50 pasang indukan murai batu berkualitas tinggi yang secara rutin menghasilkan anakan. Dalam satu bulan, dari puluhan indukan tersebut, Andik mampu memanen sekitar 20 hingga 30 anakan murai batu siap jual.
Yang membuat peternakan Andik menonjol bukan sekadar jumlah produksi, melainkan kualitas burung yang dihasilkan. Banyak murai batu ternakannya memiliki mutasi genetik langka, mulai dari jenis panda, albino, blorok, hingga corak yang dikenal para penghobi sebagai zombie. Keunikan warna dan pola inilah yang membuat harga burung melonjak tajam di pasaran.
Permintaan pun datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari dalam negeri, burung murai batu hasil ternakan Andik juga diminati kolektor dan pehobi dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, hingga Vietnam. Popularitas murai batu mutasi langka membuat pasar burung kicau Asia Tenggara semakin bergairah.
Untuk pemasaran, Andik memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Ia rutin menjual burung melalui siaran langsung di media sosial, sekaligus bekerja sama dengan toko-toko burung di kawasan Manukan Kulon, Surabaya. Cara ini dinilai efektif menjangkau pasar yang lebih luas, terutama kalangan penghobi muda.
Di balik burung berkualitas, terdapat perawatan yang tidak main-main. Andik dibantu dua orang pegawai yang bertugas memberi pakan dan menjaga kebersihan kandang. Murai batu diberi asupan pakan lengkap, mulai dari pakan siap saji hingga pakan hidup seperti jangkrik, ulat hongkong, dan ikan guppy. Menurut Andik, perawatan yang konsisten menjadi kunci utama menjaga kualitas suara dan fisik burung.
“Perawatan yang baik akan menghasilkan burung berkualitas,” ujarnya.
Kerja keras itu berbuah manis. Dari penjualan burung murai batu, omzet yang dikantongi Andik dalam sebulan bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, dalam periode tertentu, total perputaran usaha peternakannya mampu menembus angka Rp 800 juta.
Bagi Andik, beternak murai batu bukan sekadar soal keuntungan finansial. Usaha ini menjadi titik balik yang mengembalikan semangat hidupnya setelah sempat gagal di bidang usaha lain. Ia juga melihat beternak burung kicau sebagai peluang terbuka bagi para penghobi yang ingin menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan tambahan.
Kisah Andik menunjukkan dengan ketekunan, perawatan yang tepat, dan keberanian membaca peluang pasar, hobi sederhana bisa tumbuh menjadi bisnis bernilai ratusan juta rupiah. (**)
Sumber : beritasatu.com
Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow