Dana Insentif Stunting Jadi Modal Batu Memperkuat Layanan Kesehatan Akar Rumput
Prestasi di tingkat nasional ini menjadi validasi bahwa membangun kesehatan tidak harus dimulai dari struktur besar. Batu membuktikan, ketika akar rumput diperkuat, hasilnya bisa mengangkat nama daerah hingga ke panggung nasional. Dengan modal insentif ini, Kota Batu siap memperluas peran komunitas untuk mempercepat lahirnya generasi sehat dan berdaya.
KOTA BATU, SJP – Raihan insentif fiskal Rp5,56 miliar dari kategori Percepatan Penurunan Stunting 2025 membuka ruang baru bagi Pemkot Batu untuk memperkuat layanan kesehatan di level paling bawah. Bukan hanya soal penghargaan, dana ini menjadi momentum memperbaiki fondasi kerja kesehatan desa, terutama melalui penguatan Posyandu.
Wali Kota Batu Nurochman pada Jumat (14/11/2025) menegaskan bahwa keberhasilan dalam mendapat insentif nasional dan posisi Juara 2 Nasional untuk Posyandu Flamboyan Desa Mojorejo menegaskan satu hal dimana kualitas layanan dasar di tingkat desa sudah bergerak ke arah yang benar.
"Posyandu yang sering dianggap fasilitas kecil.justru menjadi penyangga terbesar dalam pencegahan stunting. Ditambah capaian itu sebagai hasil kerja kolaboratif yang selama ini dibangun pelan tapi stabil. Ia menegaskan, fokus utama selanjutnya bukan sekadar mengejar angka, tetapi memastikan Posyandu dan kader di setiap wilayah memiliki kapasitas lebih kuat untuk menjangkau keluarga rentan," bebernya.
Ia juga menegaskan insentif tersebut akan kami gunakan untuk memperbesar daya jangkau layanan gizi dan memperkuat kapasitas kader. Terlebih posyandu adalah ujung tombak dan jikalau mereka kuat, pencegahan stunting lebih cepat terasa.
Perbaikan bertahap yang dilakukan Batu mulai menunjukkan hasil. Angka stunting turun ke 10,39 persen per November 2025 dari 10,65 persen pada September 2024. Penurunan kecil namun stabil ini menjadi indikator bahwa intervensi di wilayah desa mulai terkonsolidasi.
Lewat momentum ini, Pemkot Batu ingin memindahkan pusat penguatan bukan hanya di layanan kesehatan formal, tetapi langsung ke ruang-ruang komunitas seperti Posyandu, kader desa, serta kelompok keluarga. Semua strategi diarahkan agar pencegahan tidak berhenti di fasilitas kesehatan, melainkan hidup di tingkat rumah tangga.
“Kami butuh gerakan komunitas. Keluarga, kader, dan desa harus bergerak bersama. Di situ percepatan stunting akan paling terlihat,” pungkas pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

