Dampak Konflik Timur Tengah, 85 Persen Kapal Internasional Terlambat Tiba di Tanjung Perak Surabaya
Konflik Iran-AS-Israel bikin gelombang di Seliran, Pelabuhan Tanjung Perak ikut kena imbas. Kapal-kapal internasional terlambat, kontainer numpuk, dan biaya logistik melejit.
SURABAYA, SJP - Konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menyebabkan gangguan pada rantai pasok global, termasuk pelayaran internasional. Gangguan ini disebabkan penutupan Seliran dan ancaman keamanan, sehingga kapal harus ambil rute lebih panjang dan biaya logistik naik.
Dampaknya terasa di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, di mana sekitar 85 persen kapal internasional mengalami keterlambatan. Hal ini menyebabkan penumpukan kontainer, biaya logistik meningkat, dan dampak pada industri lokal yang bergantung pada impor-ekspor.
Berdasarkan data empiris, sekitar 85 persen kapal internasional mengalami deviasi jadwal (delay) signifikan. Durasi keterlambatan dapat mencapai 7 hari, dengan kapal yang seharusnya tiba pada hari Senin pagi, baru bersandar pada hari Selasa.
"Jalur Suez adalah jalur pintas utama kapal internasional, memutar meningkatkan biaya logistik dan memperpanjang waktu pengiriman, Dampaknya ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sangat signifikan, kapal-kapal mengalami keterlambatan, aktivitas bongkar muat terkendala, sehingga mengganggu kegiatan impor dan ekspor," ujar David Pandapotan Sirait.
Menurut David Pandapotan Sirait, Direktur Utama Terminal Teluk Lamong Surabaya, fasilitas tersebut memiliki dua rute pelayaran langsung ke India dan Timur Tengah, dengan proporsi muatan yang didominasi oleh komoditas ekspor.
Tahun lalu, satu layanan pelayaran menangani 20.000 kontainer Twenty-foot Equivalent Unit, (TEUs). Baru-baru ini, ada tambahan layanan, termasuk perusahaan pelayaran Evergreen Marine membuka rute ke Timur Tengah.
Ada tiga perusahaan pelayaran Asia yang layani rute langsung ke Timur Tengah dan India Subcontinent, target pengiriman tahun ini melonjak dari 30.000 TEUs jadi 75.000 TEUs, dengan pengiriman mingguan sekitar 1.000-1.500 TEUs langsung tanpa transit di Singapura atau Malaysia.
Operator Pelabuhan menuturkan, keterlambatan operasional pelabuhan tersebut bukan disebabkan oleh ketidaksiapan infrastruktur terminal, melainkan merupakan konsekuensi dari gangguan pada jaringan rute pelayaran global. Akibatnya, terjadi kongesti kapal di pelabuhan sehingga kapal-kapal harus menunggu giliran sandar sesuai dengan antrean yang terbentuk.
Selain itu, fenomena omission atau pembatalan singgah juga terjadi di beberapa pelabuhan. Hal ini seringkali dipicu oleh volume muatan yang relatif kecil, sehingga perusahaan pelayaran mempertimbangkan untuk melewati pelabuhan tersebut demi efisiensi operasional. Keputusan ini dapat mempengaruhi dinamika logistik dan distribusi barang di wilayah yang bersangkutan. (**)
Penulis: Paskalis Arakat, Mahasiswa Magang Unitri
Editor: Danu
What's Your Reaction?

