Polisi Dalami Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jombang
Guna kepentingan penyelidikan, kepolisian bersama tim medis Dinkes Jombang telah melakukan olah TKP dan pengambilan sampel di lokasi kejadian.
JOMBANG, SJP–Kepolisian Resor (Polres) Jombang bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat tengah melakukan investigasi mendalam terkait dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan santri Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung.
Insiden ini terjadi pasca konsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) saat berbuka puasa, Kamis (5/3/2026).
Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, mengonfirmasi adanya laporan warga mengenai puluhan santri yang mengalami gejala klinis berupa mual dan muntah sesaat setelah menyantap hidangan di lingkungan pesantren.
"Informasi yang kami terima ada dugaan keracunan makanan saat berbuka puasa di pondok pesantren tersebut. Saat ini ada 31 santri yang sempat mendapatkan perawatan di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung," ujar Ardi saat dikonfirmasi, Jumat (6/3/2026).
Guna kepentingan penyelidikan, kepolisian bersama tim medis Dinkes Jombang telah melakukan olah TKP dan pengambilan sampel di lokasi kejadian.
Material yang diamankan meliputi sisa konsumsi nasi rawon, telur asin yang menjadi bagian dari menu MBG, hingga sampel muntahan korban.
"Semua sampel tersebut kami siapkan untuk pemeriksaan lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Surabaya agar dapat diketahui penyebabnya secara ilmiah," tegas AKBP Ardi.
Meskipun gejala fisik menunjukkan indikasi keracunan, hasil uji cepat (rapid test) sementara terhadap sampel makanan belum menunjukkan adanya residu kimia berbahaya.
"Dari hasil rapid test sementara tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya seperti formalin, sianida, nitrat maupun arsenik," jelasnya.
Hingga saat ini, otoritas keamanan belum menetapkan simpulan akhir terkait penyebab pasti peristiwa tersebut.
Penyelidikan masih difokuskan pada korelasi antara menu yang dikonsumsi dengan gejala yang timbul, mengingat adanya variasi pola makan di antara para korban.
"Hasil keterangan sementara, ada yang makan rawon saja, ada yang makan telur asin saja, dan ada yang mengonsumsi keduanya. Beberapa tetap mengalami gejala, sehingga ini masih kami dalami," tambah Ardi.
Terkait kondisi medis, Kapolres memastikan mayoritas santri telah melewati masa kritis dan diperbolehkan pulang.
"Untuk yang masih berada di ruang IGD saat ini tinggal tujuh orang, terdiri dari satu santri laki-laki dan enam santri perempuan. Kondisinya juga sudah stabil dan bisa berkomunikasi," ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menegaskan bahwa penanganan medis telah dilakukan secara maksimal.
Namun, ia menekankan perlunya uji mikrobiologi untuk mendeteksi kemungkinan kontaminasi bakteri yang tidak terdeteksi melalui uji cepat kimia.
"Sampel yang kami kirim meliputi makanan, muntahan pasien, serta sampel air dari lingkungan pondok. Pemeriksaan laboratorium termasuk uji mikrobiologi untuk memastikan sumbernya," kata Hexawan.
Ia juga mengingatkan bahwa proses pembuktian secara laboratoris memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang valid.
"Untuk pemeriksaan laboratorium dan kultur bakteri biasanya memerlukan waktu sekitar 10 hari agar hasilnya benar-benar akurat," pungkasnya.
Kasus ini menjadi atensi serius bagi Polres dan Dinkes Jombang guna mengevaluasi standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis di institusi pendidikan dan keagamaan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

