Cahaya di Ujung Jemari, Tadarus Al-Qur’an Braille di SLB PGRI Kedungwaru Tulungagung
Tidak ada keterbatasan yang menjadi alasan untuk berhenti belajar. Justru dari keterbatasan penglihatan, lahir ketekunan yang luar biasa.
TULUNGAGUNG, SJP - Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar syahdu dari sebuah ruang kelas di SLB PGRI Kedungwaru Tulungagung. Suaranya lembut, pelan, namun mantap. Bukan mata yang menelusuri setiap huruf, melainkan ujung-ujung jemari kecil yang bergerak hati-hati di atas lembaran kertas tebal bertitik timbul.
Di bulan Ramadan, suasana di sekolah luar biasa yang berada di Kabupaten Tulungagung ini terasa berbeda. Lebih khusyuk. Lebih hangat. Anak-anak tunanetra duduk rapi, masing-masing dengan mushaf Al-Qur’an Braille di pangkuan. Jemari mereka menyusuri titik demi titik, menerjemahkannya menjadi huruf hijaiyah, lalu menjadi ayat-ayat suci yang mengalun memenuhi ruangan.
Riska Desila Putri, salah satu siswi tunanetra, tampak percaya diri melafalkan ayat demi ayat. Jari-jarinya lincah membaca simbol Braille Arab yang tersusun rapi di hadapannya.
“Belajar membaca Al-Qur’an Braille sejak SMP kelas 2,” tuturnya, Rabu (25/2/2026).
Awalnya, ia harus mengenali satu per satu huruf hijaiyah dalam bentuk titik timbul. Dari alif, ba, ta hingga ya. Tidak mudah di awal.
“Kalau dulu agak-agak sulit pertama,” akunya.
Namun kunci kelancarannya sederhana: membaca setiap hari. Kini, Riska telah menyelesaikan dua juz. Tantangan terbesarnya justru saat lupa.
“Kalau pas lupa, itu sulit,” katanya.
Bagi Riska, titik-titik Braille bukan sekadar kode. Di sanalah cahaya itu hadir menuntunnya membaca kalam Ilahi tanpa harus melihat.
Arif Efendi, pengajar Al-Qur’an Braille di sekolah tersebut, menjelaskan bahwa proses belajar memang tidak instan. Rata-rata siswa membutuhkan waktu satu hingga satu setengah tahun untuk benar-benar lancar membaca.
“Pertama dikenalkan huruf-huruf hijaiyah dulu. Kalau belum menguasai, tidak ditambah. Harus lancar dulu,” jelasnya.
Setiap anak memiliki kecepatan belajar berbeda. Ada yang mampu menguasai dasar-dasar dalam enam bulan, namun ada pula yang membutuhkan hingga dua tahun.
Selama Ramadan, fokus pembelajaran bukan pada penambahan materi baru, melainkan murajaah atau pengulangan hafalan.
“Karena mau mendekati libur Hari Raya. Kalau ditambah terus, mereka malah bisa bingung. Yang sudah dipelajari bisa hilang,” tambah Arif.
Tak hanya membaca, sekolah ini juga memiliki program tahfidz Al-Qur’an bagi siswa tunanetra. Di sudut lain kelas, Denadine, siswi kelas 2 SDLB, tengah menghafal Surah Al-Baqarah. Suaranya mantap, mengalun tanpa melihat teks.
Ia mulai menghafal sejak kelas 1 SD. Kini, beberapa surat telah ia kuasai. Bahkan, ia pernah mengikuti lomba dan meraih juara satu maupun dua.
“Kadang sulit kalau pas lupa,” katanya polos.
Agar hafalan kuat, ia melakukan murajaah setiap hari. Di sekolah, guru membimbing dan membacakan ayat. Di rumah, sang ibu melanjutkan pendampingan.
Metode yang digunakan sederhana namun efektif, simakan. Guru membacakan, siswa mendengarkan, lalu mengulanginya hingga melekat dalam ingatan. Jika ada kesalahan, langsung diperbaiki.
Nanda, siswa lainnya, juga tengah menyelesaikan hafalan Surah Al-Baqarah dan juz 30. Baginya, kunci menghafal adalah mendengar dan mengulang terus-menerus, baik di sekolah maupun di rumah.
Ramadan yang Lebih Bermakna
Program literasi Al-Qur’an Braille dan tahfidz ini menjadi bagian dari pembinaan mental dan spiritual di SLB PGRI Kedungwaru Tulungagung. Sekolah swasta terakreditasi B tersebut melayani berbagai kebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita hingga autis, dengan jenjang pendidikan dari SDLB hingga SMALB.
Di ruang kelas sederhana itu, Ramadan terasa lebih bermakna. Tidak ada keterbatasan yang menjadi alasan untuk berhenti belajar. Justru dari keterbatasan penglihatan, lahir ketekunan yang luar biasa.
Jemari-jemari kecil itu terus menyusuri titik-titik Braille. Suara-suara lembut terus menghafal ayat demi ayat. Di sana, di antara lembaran-lembaran bertitik timbul, cahaya itu tidak pernah padam. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

