Pemkab Blitar Kerahkan 160 Petugas Awasi Hewan Kurban
Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban di seluruh wilayah. Sebanyak 160 petugas diterjunkan untuk memastikan hewan kurban yang dijual hingga disembelih dalam kondisi sehat dan aman dikonsumsi masyarakat.
BLITAR, SJP - Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, Pemkab Jombang melalui Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban di seluruh wilayah. Sebanyak 160 petugas diterjunkan untuk memastikan hewan kurban yang dijual hingga disembelih dalam kondisi sehat dan aman dikonsumsi masyarakat.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar, Lusia Adityaningtyas mengatakan pengawasan dilakukan sejak dua minggu terakhir di pasar hewan milik desa maupun pemerintah daerah, terutama di wilayah Srengat dan Wlingi.
Menurutnya, stok hewan kurban tahun ini dipastikan mencukupi karena jumlah hewan yang masuk ke Kabupaten Blitar cukup banyak.
"Kalau untuk penyakit hewan menular strategis sejauh ini tidak ada. Hanya ditemukan beberapa kasus skabies atau gatal pada hewan di pasar Wlingi dan pasar desa, tapi tidak membahayakan," kata dia, Selasa (26/5/2026).
Tak hanya di pasar hewan, pengawasan juga dilakukan di rumah potong hewan (RPH). Tahun ini tercatat ada 59 ekor sapi yang disembelih di RPH Srengat, Kademangan, dan Wlingi.
Ratusan petugas yang diterjunkan terdiri dari dokter hewan, medik veteriner, paramedik, hingga bantuan dari PDHI Jatim 8 (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Timur VIII) dan mahasiswa perguruan tinggi yang ikut membantu monitoring sebelum dan sesudah penyembelihan.
Petugas nantinya disebar hingga tingkat desa dengan dukungan koordinasi dari pemerintah kecamatan dan desa agar pemeriksaan hewan kurban berjalan maksimal.
Belajar dari pengalaman tahun lalu, Disnakkan kini memberi perhatian khusus pada temuan cacing hati yang kerap ditemukan saat penyembelihan sapi kurban. Sosialisasi rutin dilakukan kepada panitia kurban agar organ yang tidak layak konsumsi langsung dipisahkan dan dimusnahkan.
"Sekarang panitia sudah mulai memahami kalau ada hati yang abnormal atau terkena cacing harus dibuang dan tidak dibagikan," jelasnya.
Selain soal kesehatan hewan, Disnakkan juga mengingatkan panitia kurban untuk memperhatikan keamanan pangan saat pembagian daging. Wadah ramah lingkungan seperti besek lebih dianjurkan dibanding plastik sekali pakai.
Jika menggunakan plastik, masyarakat diminta memakai plastik food grade dan menghindari plastik hitam maupun plastik bekas karena berisiko mengandung zat berbahaya yang dapat mencemari daging kurban. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

