Bupati Lamongan Dorong Pelestarian Prasasti dan Budaya

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengikuti prosesi Sedekah Bumi di Dusun Graman, Desa Sambangrejo, Kecamatan Modo,Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur sekaligus pelestarian budaya lokal yang memiliki akar sejarah sejak masa Kerajaan Janggala.

22 Jul 2025 - 21:31
Bupati Lamongan Dorong Pelestarian Prasasti dan Budaya
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi bersama Wakil Bupati Dirham Aksara mengikuti prosesi Sedekah Bumi di Dusun Graman, Desa Sambangrejo, sebagai upaya merawat budaya dan mengenang sejarah Prasasti Garaman.(Foto ; Ist/Atmo/SJP)

LAMONGAN, SJP – Bupati Lamongan Yuhronur Efendi turut serta dalam prosesi Sedekah Bumi di Dusun Graman, Desa Sambangrejo, Kecamatan Modo, Lamongan, Selasa (22/7/2025).

Tradisi tersebut digelar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya melestarikan budaya lokal yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Janggala.

Dusun Graman tercatat memiliki nilai sejarah penting. Di masa silam, wilayah ini dikenal sebagai Desa Garaman yang mendapatkan penghargaan berupa Prasasti Garaman dari Raja Mapanji Garasakan, putra dari Raja Airlangga.

“Dulu masyarakat sini punya otonomi daerah, punya kekhasan untuk memungut pajak sendiri, sumber daya alam yang dikelola sendiri. Kekhasan ini harus kita rawat, termasuk tradisi seperti sedekah bumi yang harus terus dilestarikan,” ujar Yuhronur, yang akrab disapa Pak Yes, dalam sambutannya.

Prasasti Garaman menjadi simbol penetapan Desa Garaman sebagai desa otonom, lantaran kontribusi warganya dalam membela pemerintahan Mapanji Garasakan.

Demi menjaga warisan sejarah tersebut, Pemkab Lamongan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto untuk membuat replika prasasti.

“Beberapa tempat sudah kita buatkan replikanya, terutama di wilayah Ngimbang dan Sambeng. Replika itu dibuat dengan ukuran, bentuk, dan tulisan yang persis seperti prasasti asli yang ada di Museum Nasional,” jelas Yuhronur.

Rangkaian Sedekah Bumi diawali dengan arak-arakan nyadran dari Balai Desa menuju Sendrang Graman. Di lokasi ini, warga dan tokoh masyarakat menggelar doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan desa.

Arak-arakan berlangsung meriah dengan partisipasi empat RT dari Dusun Graman. Para peserta mengenakan kostum ala kerajaan, membawa gunungan hasil bumi, serta menyuguhkan teatrikal perang sempyoh yang menyimbolkan perlawanan rakyat pada masa lampau.

Antusiasme warga tampak tinggi dalam mengikuti seluruh rangkaian acara, yang tak hanya menjadi ajang syukuran, tapi juga pengingat akan sejarah dan jati diri desa.

“Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tapi penguat identitas dan peringatan akan peran besar masyarakat kita di masa lalu. Ini adalah kekayaan budaya yang tak boleh hilang,” pungkas Pak Yes. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow