Bupati dan Puluhan Kepala Desa serta Petani Nganjuk Duduki Bulog, Marhaen : Jangan Dikambing Hitamkan

Bupati Marhaen menegaskan pentingnya peran Bulog dalam menstabilkan harga gabah di tingkat petani, sehingga mereka tidak lagi dirugikan oleh harga yang sangat rendah.

24 Mar 2025 - 20:15
Bupati dan Puluhan Kepala Desa serta Petani Nganjuk Duduki Bulog, Marhaen : Jangan Dikambing Hitamkan
Bupati Marharen didampingi Wabup, Dandim dan Ka Bulog Cabang Kediri saat mediasi di Kantor Gudang Bulog Jalan Anjuk Ladang Loceret (kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP - Puluhan kepala desa bersama dengan perwakilan petani di Kabupaten Nganjuk, menggelar aksi unjuk rasa di Gudang Bulog jalan Anjuk Lladang. Mereka mendesak pihak Bulog untuk segera membeli gabah hasil panen warga. 

Aksi ini dipimpin langsung oleh Bupati Marhaen Djumadi, yang ikut turun ke lokasi untuk mendengarkan keluhan para petani yang merasa kesulitan dalam memasarkan hasil pertanian mereka.

Dalam keterangannya, Bupati Marhaen menegaskan pentingnya peran Bulog dalam menstabilkan harga gabah di tingkat petani, sehingga mereka tidak lagi dirugikan oleh harga yang sangat rendah. 

“Ini Nganjuk, hanya Nganjuk yang seperti ini, Kami mendorong Bulog untuk segera menyerap gabah petani dengan harga yang wajar, agar para petani tidak mengalami kerugian,” ujar Bupati Marhaen saat memberikan sambutan di depan kerumunan Kades, Senin (24/3/2025).

Sosok Bupati yang akrab dipanggil Kang Marhaen menegaskan agar Bulog membeli gabah petani Nganjuk. Sehingga, petani tidak menjual gabah ke tengkulak.

"Gabah petani harus dibeli Bulog," jelasnya

Disinggung terkait bencana yang menimpa petani, apakah nanti akan ditanggung, Sontak Bupati Marhaen sedikit kelabakan pertanyaan yang dilontarkan awak media.

"Ini pertanyaan bagus, nanti sebagai masukan kami," kata Bupati Nganjuk.

Marhaen meminta, jangan dikambing hitamkan antara Bulog dengan petani, ia juga mohon supaya bisa membantu kinerja Bulog, supaya tercipta sinergitas di wilayah Nganjuk

"Ayo kita bangun Nganjuk, jangan mengkambing hitamkan Bulog, ayo kita sejukkan Nganjuk," tutur Marhaen.

Informasi yang digali Suarajatimpost, viralnya gabah, karena tidak dibeli Bulog, petani terpaksa menjual gabah ke tengkulak dengan harga Rp 5.700 per kilogram.

Kendati demikian, harga pokok penjualan (HPP) gabah kering Rp 6.500 per kilogram jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah.

"Ya kalau sudah gini, saya minta wartawan harus menulis sesuai fakta, kadang ada yang menulis bikin orang ketakutan, ayo kita ciptakan sesuatu yang sejuk," tukas Kang Marhaen dengan disambut tawa.

Adanya persoalan harga gabah yang anjlok dianggap Marhaen sebagai masalah serius. Untuk menyelesaikan masalah itu, Marhaen akan mendatangi Bulog dalam waktu dekat.

Kang Marhaen berharap, permasalahan tersebut dapat menjadi titik temu permasalahan rendahnya penyerapan yang dilakukan oleh Bulog.

“Kami harapkan, nantinya petani Nganjuk dapat kembali menjual gabah ke Bulog. Dengan itu dipastikan harga tidak lebih rendah dari harga pokok penjualan (HPP),” tutupnya

Karena diketahui, akibat penyerapan rendah, petani harus menjual gabah ke tengkulak. Apesnya, akibat dijual ke tengkulak, harga gabah jadi terjun bebas.

Seharusnya gabah kering dijual dengan harga Rp 6.500 per kilogram (kg). Namun akibat dijual ke tengkulak, harga gabah hanya Rp 5.700 per kg.

Petani tentu tidak memiliki banyak pilihan. Karena dalam waktu dekat, petani harus segera melakukan masa tanam. Ditambah petani sedang membutuhkan uang untuk Lebaran dan tanam lagi.

Salah satu petani yang hadir Suparno (50) asal Desa Baron mengungkapkan, dia merasa kesusahan menjual gabah beberapa hari terakhir

Salah satu penyebabnya, kata dia tidak bisa menjual ke Bulog. Sebagai gantinya, dia harus menjual ke tengkulak.

“Gimana lagi mas, dijual ke tengkulak ya murah, tapi mau gimana lagi,” celetuknya

Pihaknya berharap ke pemerintah daerah. Harapannya, harga gabah dapat dijual dengan harga tinggi. Yaitu, Rp 6.500 per kilogram.

Disamping itu, jika tidak, petani tidak mendapatkan untung. “Masa dari dulu, petani rugi saat panen raya,” gerutunya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow