Bondowoso Specialty Arabika Ijen Raung Tembus Pasar Dunia

Ekspor perdana 10 ton kopi specialty arabika asal Bondowoso menandai kebangkitan kopi lokal ke pasar dunia. Proses pemurnian enam tahap dan skor cupping tinggi menjadikan kopi ini diminati pembeli dari Jepang, Tiongkok, hingga Amerika Serikat.

01 Nov 2025 - 16:07
Bondowoso Specialty Arabika Ijen Raung Tembus Pasar Dunia
Khofifah Indar Parawansa saat menunjukkan kualitas kopi arabika Ijen Raung ke Taiwan (foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Dari tangan-tangan petani di dataran tinggi Desa Rejoagung Kecamatan Sumberwringin, aroma harum kopi arabika khas Bondowoso kini perlahan menembus pasar dunia. 

Hari ini, Sabtu (1/11/2025), menjadi tonggak bersejarah, di mana sebanyak 10 ton kopi specialty arabika diekspor ke luar negeri dan menandai babak baru perjalanan kopi Bondowoso menuju kancah internasional.

Giyanto Wijaya, Direktur Wijaya Coffee, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Baginya, ekspor kali ini bukan sekadar pengiriman kopi, melainkan hasil dari kerja keras bertahun-tahun menjaga kualitas dari hulu hingga hilir.

“Memang benar, ini ekspor specialty pertama kami. Banyak yang sudah mengekspor arabika, tapi kopi specialty itu berbeda. Ada penilaian, ada skornya. Kalau nilainya di atas 80, baru disebut specialty coffee,” ujar Giyanto.

Menurutnya, kopi Bondowoso telah melalui proses panjang sebelum akhirnya lolos uji cupping di Taiwan dengan nilai 82,5. Bahkan, dalam tes terakhir mencapai skor 86,2. Sebuah capaian luar biasa untuk kopi lokal yang lahir dari lereng Gunung Ijen dan Raung.

Namun, capaian itu bukan datang dengan mudah. Giyanto menjelaskan, proses pascapanen menjadi kunci utama. Dari kebun, buah kopi harus benar-benar merah saat dipetik. Setelah itu melalui proses perendaman, penyortiran, fermentasi, hingga pemurnian yang bisa mencapai enam tahap.

“Dari awal, kami buang buah hitam atau yang mengapung. Hanya yang sempurna yang dipertahankan. Karena specialty coffee itu soal ketelitian dan konsistensi,” ujarnya.

Tak heran jika hasil akhirnya dihargai lebih tinggi. Sebagai perbandingan, jenis Geisha, yang skornya 96 hingga 98, bisa mencapai harga lebih dari Rp100 juta per kilogram. 

Meski kopi Bondowoso belum sampai ke titik itu, potensinya terbuka lebar. Permintaan kini datang dari Tiongkok, Jepang, Korea, Thailand, hingga Amerika Serikat.

“Mereka bahkan sudah antre dan ingin kontrak langsung dengan petani, asal kualitas kita terjaga,” tutur Giyanto optimistis.

Cita-Cita yang Dihidupkan Kembali

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, ikut menyambut langkah besar ini. Ia menyebut, semangat menumbuhkan kembali kejayaan kopi Bondowoso adalah warisan dari program “Bondowoso Republik Kopi” yang dulu digagas oleh Bupati Amin Said Husni.

“Saya ingin semangat itu hidup lagi. Kopi Bondowoso harus benar-benar murni, bukan kopi luar yang sekadar dilabeli nama Bondowoso,” tegasnya.

Dhafir menambahkan, pihaknya ingin agar pengelolaan kopi dilakukan satu pintu agar lebih terarah, mulai dari hulu hingga hilir. Ia juga menegaskan bahwa pengembangan kopi ini harus murni berbasis ekonomi rakyat, bukan kepentingan politik.

“Yang paling penting bagi saya, bagaimana kita bisa memisahkan antara bisnis, sosial, dan politik. Kopi Bondowoso ini adalah kebanggaan kita bersama,” ujarnya.

Dengan ketinggian wilayah yang ideal, di atas 800 hingga 1000 meter dari permukaan laut, daerah Rejoagung menjadi surga bagi tanaman kopi arabika. Udara sejuk, tanah subur, dan kerja keras petani menjadi racikan sempurna bagi cita rasa kopi yang kini mulai dikenal dunia. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow