Bersumber dari BTT, BPBD Siapkan Rp400 Juta untuk Penanganan Darurat Bencana di Bondowoso

BPBD Bondowoso menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) secara selektif sesuai regulasi untuk pemulihan jembatan dan penyediaan air bersih di sejumlah desa, dengan estimasi anggaran darurat sekitar Rp400 juta.

21 Jan 2026 - 16:24
Bersumber dari BTT, BPBD Siapkan Rp400 Juta untuk Penanganan Darurat Bencana di Bondowoso
Jembatan penghubung Desa Wonoboyo dan Leprak yang ambruk diterjang banjir (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso menegaskan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) dilakukan secara selektif dan tetap mengacu pada koridor regulasi yang berlaku, terutama untuk kebutuhan darurat yang berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo menjelaskan, intervensi anggaran BTT difokuskan pada pemulihan akses vital warga pascabencana, seperti perbaikan jembatan dan penyediaan air bersih.

“BTT kita gunakan secara selektif sesuai regulasi. Prioritas pertama adalah pemulihan akses masyarakat agar aktivitas tidak terganggu,” ujarnya, usai rapat kerja dengan Komisi IV DPRD Bondowoso di kantornya, Rabu (21/1/2026).

Beberapa titik yang menjadi sasaran intervensi anggaran darurat tersebut antara lain jembatan di Desa Wonoboyo Kecamatan Klabang, penyediaan air bersih di Desa Klekean Kecamatan Botolinggo, serta perbaikan jembatan di kawasan Desa Ampelan Kecamatan Wringin. 

“Seluruh penanganan tersebut dinilai mendesak karena menyangkut mobilitas dan kebutuhan dasar masyarakat,” ucapnya.

Untuk kebutuhan darurat di lokasi terdampak, BPBD memperkirakan anggaran yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp400 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk memastikan akses transportasi dan layanan dasar dapat segera pulih.

“Estimasi di tiga titik tersebut memakan anggaran BTT kisaran Rp400 juta,” ungkap Kris.

Terkait teknis penggunaan anggaran kebencanaan, termasuk belanja tidak terpakai, lanjut Kris, dirinya sudah berkoordinasi dengan Komisi IV DPRD setempat. Menurutnya, Komisi IV  menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pemerintah daerah sesuai kebutuhan dan urgensi di lapangan. 

“Semua diserahkan kepada kami, sesuai dengan regulasi dan petunjuk teknis, BTT akan kami gunakan untuk penangangan darurat bencana di Bondowoso,” tandasnya.

Sementara itu, jembatan penghubung Desa Wonoboyo dan Desa Leprak Kecamatan Klabang yang ambruk diterjang banjir pada Selasa (13/1/2026) lalu, telah dilakukan asesmen oleh Dinas Bina Marga Sumber Daya Air dan Bina Kontruksi (BSBK).

Plt Kepala Dinas BSBK Bondowoso, Ansori, mengatakan, penanganan darurat telah dimulai sejak Kamis (15/1/2026), setelah dilakukan rapat koordinasi pada Rabu, (14/1/2026). Langkah cepat ini dilakukan untuk memastikan akses masyarakat tetap bisa dilalui, khususnya kendaraan roda empat.

“Untuk penanganan darurat sudah kita mulai kemarin. Sementara ini kita gunakan bronjong dan besi existing yang ada, dengan anggaran dari belanja tidak terduga (BTT),” kata Ansori.

Menurutnya, penanganan darurat tersebut bersifat sementara sembari menunggu perencanaan jangka panjang. Estimasi anggaran untuk perbaikan permanen masih dalam tahap perhitungan dan akan diusulkan melalui Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD).

“Estimasi anggaran masih dihitung oleh teman-teman karena baru dilakukan survei. Nanti anggarannya kita masukkan di APBD perubahan,” jelasnya.

Untuk jangka panjang, Pemkab Bondowoso berencana melakukan penggantian struktur jembatan secara menyeluruh. Pasalnya, kondisi jembatan yang ada sudah tidak memungkinkan hanya diperbaiki secara parsial.

“Nantinya, setelah penanganan darurat, akan kita lakukan penggantian jembatan. Struktur lama sudah longsor, jadi nanti kemungkinan menggunakan struktur yang berbeda,” terang Ansori. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow