Banyuwangi “Absen” dari Selingkar Ijen — Ironi Kolaborasi Pariwisata

Absennya Banyuwangi dari wacana Selingkar Ijen menimbulkan ironi dalam kolaborasi pariwisata Jawa Timur. Apakah pembangunan kawasan ini benar-benar adil dan inklusif?

15 Sep 2025 - 23:35
Banyuwangi “Absen” dari Selingkar Ijen — Ironi Kolaborasi Pariwisata
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid diapit Wabup dan Sekda setempat saat berkunjung ke Savana Kawah Wurung Ijen beberapa waktu lalu. (Foto: Diskominfo Bondowoso)

BANYUWANGI, SJP - Kawasan Selingkar Ijen belakangan jadi sorotan karena potensi pariwisatanya yang besar. Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Perpres No. 80 Tahun 2019 telah menetapkannya sebagai salah satu fokus pembangunan ekonomi regional. Kawasan ini mencakup beberapa kabupaten penyangga yaitu Situbondo, Banyuwangi, dan Bondowoso.

Namun, menarik bahwa dalam diskusi terkini tentang Selingkar Ijen — terutama kolaborasi Bondowoso, Jember, dan Situbondo — Banyuwangi terasa “absen” atau tidak terlalu disorot sebagai bagian aktif.

Meski secara geografis dan administratif Banyuwangi memang masuk dalam wilayah Selingkar Ijen, realitas kolaborasi dan narasi pengembangan belum memberi ruang Banyuwangi yang setara dalam beberapa inisiatif baru.

Kenapa Ini jadi Problem?

  1. Ketidakmerataan Manfaat
    Jika kolaborasi hanya fokus pada kabupaten tertentu (Bondowoso, Situbondo, Jember), maka manfaat infrastruktur, promosi, investasi bisa timpang. Banyuwangi sebagai daerah dengan basis pariwisata sudah kuat mungkin tidak merasa terlalu kekurangan — tapi ke depan, campur tangan dan kontribusi Banyuwangi bisa terabaikan dalam kebijakan dan anggaran.

  2. Identitas dan Branding Kawasan
    Selingkar Ijen seharusnya menjadi “payung” identitas bersama. Jika dalam praktik pengembangan identitas ini Banyuwangi tidak disebutkan atau aktif dilibatkan, identitas bersama bisa lemah atau kurang menyeluruh.

  3. Pengelolaan sumber daya dan potensi lokal
    Banyuwangi punya potensi alam, budaya, dan wisata yang sudah dikenal. Tapi jika tidak dilibatkan secara proposional dalam proyek kolaboratif (infrastruktur, pemasaran, konservasi), potensi itu bisa saja tidak maksimal termanfaatkan atau dikembangkan sesuai keunikan lokalnya.

Solusi yang Perlu Dipertimbangkan

  • Pemerintah provinsi mengadakan forum khusus yang memastikan partisipasi aktif Banyuwangi dalam setiap tahap Selingkar Ijen: perencanaan, promosi, anggaran.

  • Memastikan anggaran provinsi dan kabupaten yang relevan dialokasikan untuk Banyuwangi sesuai kebutuhan di kawasan penyangga Ijen.

  • Publikasi dan branding Selingkar Ijen harus eksplisit menyertakan Banyuwangi dalam semua materi — promosi pariwisata, riset, proyek pengembangan.

  • Evaluasi periodik — seberapa jauh manfaat sudah diterima masing-masing kabupaten penyangga, termasuk Banyuwangi — dengan indikator nyata.

Absen Banyuwangi dalam wacana kekinian Selingkar Ijen bukanlah masalah kecil. Ada risiko ketimpangan manfaat, melemahnya identitas kawasan, dan kurangnya kepercayaan masyarakat jika daerah terasa hanya “diliputi” nama tetapi tidak hadir dalam manfaat konkret.

Untuk Selingkar Ijen benar-benar menjadi kekuatan bersama, Banyuwangi harus kembali di posisi sentral, bukan sekedar objek wilayah penyangga. (**)

Editor: Rizqi Ardian 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow