Ayah dan Anak Berduet dalam “Coretan Warna Warni” di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya
Pameran duet ayah–anak “Coretan Warna Warni” digelar di Galeri Merah Putih pada 6–11 Desember, menampilkan 12 karya yang menandai langkah awal perjalanan seni mereka.
SURABAYA, SJP — Pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menemukan wujudnya secara nyata di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya pada penghujung tahun 2025 ini.
Dalam pameran bertajuk “Coretan Warna Warni I Made Kenzie & Papa” yang berlangsung pada 6-11 Desember 2025, hubungan ayah dan anak tidak hanya terjalin lewat ikatan darah, tetapi tersambung melalui goresan warna yang sama-sama lahir dari panggilan hati.
Bonding Lewat Goresan Warna
Di antara dinding-dinding putih galeri yang dipenuhi 12 lukisan, terdapat kisah tentang dua generasi yang bertemu di kanvas. I Ketut Gede Susila (IKGS) Widiastra, sang ayah, mengaku bahwa perjalanan seni mereka bermula dari hobi sederhana yang dilakukan bersama.
Ia menuturkan bahwa dirinya dan putranya sama-sama mulai menyentuh kanvas di waktu yang hampir bersamaan, sebagai aktivitas spontan penuh rasa suka.
“Kami mulai bareng, terjun ke kanvas bareng. Saya suka potret, anak saya ikut ketularan,” ujar Widiastra saat dikonfirmasi pada Senin (8/12/2025).
Tema pameran yang mereka pilih, coretan warna-warni, menjadi wujud kebebasan berekspresi, meskipun keduanya tetap menampilkan banyak figur manusia. Kecintaan pada bentuk dan wajah seakan menjadi benang merah visual antara ayah dan anak.
Rumah Penuh Kreativitas
Perjalanan seni Widiastra tidak lahir dari pendidikan formal, melainkan dari lingkungan masa kecil yang sarat tradisi. Ia tumbuh di Jembrana, Bali, dalam keluarga yang memiliki fasilitas seni lengkap, dari gong hingga wayang.
“Kakek saya punya fasilitas berkesenian lengkap. Setiap sore warga kumpul untuk berkesenian, dan jiwa saya terpanggil.”
Kecintaan akan kreativitas itu berlanjut hingga membentuk rumah tangga. Ia dan sang istri sama-sama memiliki minat seni, membuat rumah mereka di Menganti, Gresik, menjadi tempat berkumpul anak muda dan ruang tumbuh bagi bakat sang putra, I Made Kenzie. Widiastra bersyukur karena bakat anaknya terlihat sejak dini dan mudah diarahkan.
“Saya merasa bersyukur, karena bakat anak saya sudah ditunjukkan lebih mudah daripada orang lain,” katanya.
Keraguan yang Berubah Menjadi Keyakinan
Meski demikian, perjalanan menuju pameran ini tidak sepenuhnya mulus. Widiastra mengaku sempat menghadapi konflik batin ketika melihat realitas hidup sebagian seniman yang tidak mudah.
“Rasa menghargai seni di Indonesia itu minim. Saya lihat banyak seniman hidupnya miris, sempat ragu juga,” tuturnya.
Namun refleksinya membawa ia kembali pada keyakinan bahwa setiap pekerjaan memiliki nilainya masing-masing selama dikerjakan dengan cinta.
Keyakinan itu semakin kuat setelah ia pernah diundang mengikuti OTS lukisan lintas agama pada 2024, dan bahkan karyanya mampu menarik perhatian dalam sebuah lelang seni yang awalnya sangat ia cemaskan.
“Ternyata karya saya diminati. Itu titik saya berani melangkah,” katanya.
Pengalaman itu mendorongnya mengambil langkah besar, memesan slot pameran di Galeri Merah Putih untuk Desember tahun ini. Keputusan yang menjadi pemicu semangat baru untuk terus berkarya, meski harus mencuri waktu sepulang kerja.
Duet Perdana Ayah dan Anak
Pameran ini adalah pameran “duet” pertama mereka. Widiastra membawa lima lukisan, sedangkan Kenzie yang baru berusia 13 tahun membawa tujuh karya. Meski masih belia, kemampuan Kenzie disebut sang ayah telah melampaui banyak anak seusianya.
“Kalau saya lihat, langkah anak saya sudah di depan. Potensinya harus saya dampingi,” ujarnya.
Widiastra sendiri baru mengenal media kanvas dalam dua tahun terakhir, setelah sebelumnya fokus pada gambar pensil hitam-putih. Tetapi tampil bersama putranya membuat pameran ini terasa lebih dari sekadar peristiwa seni—melainkan perjalanan keluarga.
Meski pameran ini menjadi tonggak pertama, Widiastra berharap ini bukan akhir melainkan awal bagi langkah mereka. Ia menegaskan bahwa bagi keluarganya, seni bukan soal ketenaran atau penjualan karya, tetapi tentang kebahagiaan yang muncul saat lukisan selesai tercipta.
“Ada kepuasan tersendiri setiap selesai melukis. Bukan soal laku atau tidak, saya hanya ingin berkarya sebaik mungkin,” katanya.
Ia juga berharap kehadiran mereka dapat ikut menyegarkan gairah seni rupa di Surabaya, sekaligus meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap para pelukis.
“Mudah-mudahan berkesenian di Surabaya semakin bergairah dan penghargaan pada seniman bisa meningkat,” pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

