Asatan di Bondowoso Jadi Upaya Bersihkan Sedimen Bendungan Sampean Baru

Ada warga yang turun ke dasar Bendungan Sampean Baru Bondowoso untuk menangkap ikan dan ada pula yang hadir menyaksikan aneka kesenian dan budaya dalam Festival Asatan. Kegiatan tahunan ini berfungsi menguras bendungan sekaligus menggelontorkan sedimen untuk menjaga fungsi irigasi dan listrik mikrohidro.

24 Dec 2025 - 21:28
Asatan di Bondowoso Jadi Upaya Bersihkan Sedimen Bendungan Sampean Baru
Sedimen Bendungan Sampean Baru pasca asatan (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Tercatat ada 7 ribuan orang memadati Bendungan Sampean Baru, Kabupaten Bondowoso. Mereka beramai-ramai ada yang turun ke dasar bendungan untuk menangkap ikan, ada pula yang hanya sebatas hadir menyaksikan tradisi lokal yang dikenal dengan nama 'Asatan'.

Perburuan ikan di dalam bendungan yang terletak di Desa Tapen, Kecamatan Tapen, Bondowoso ini merupakan bagian dari tradisi asatan, yang memang dilakukan setiap tahun bersamaan dengan kegiatan pengurasan air bendungan.

Di balik kemeriahan tradisi tersebut, asatan memiliki fungsi teknis penting dalam pengelolaan bendungan. Kepala Unit Pengelola Bendungan (UPB) Sampean Baru dan Bajulmati, Wahyu Adi Nugroho, menjelaskan, asatan merupakan metode untuk menggelontorkan sedimentasi yang mengendap di tampungan waduk.

“Asatan ini berfungsi untuk menggelontorkan sedimentasi di tampungan Bendungan Sampean Baru. Tujuannya adalah untuk memperpanjang umur layanan bendungan serta mengoptimalkan fungsinya, baik untuk irigasi maupun pembangkitan listrik tenaga mikrohidro,” ujar Wahyu.

Ia menjelaskan, pada tahun 2025 pelaksanaan asatan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni teknis dan non-teknis. Untuk kegiatan teknis berupa flushing atau penggelontoran sedimen, sementara kegiatan non-teknis dikemas dalam Festival Asatan.

“Festival Asatan kami selenggarakan sebagai sarana edukasi dan pelestarian sumber daya air, sekaligus menampilkan pentas seni budaya masyarakat di sekitar Bendungan Sampean Baru,” jelasnya.

Menurut Wahyu, kegiatan flushing dilakukan dengan sistem pengoperasian pintu bendungan untuk mengalirkan sedimen keluar dari tampungan. Proses ini dilaksanakan selama delapan hari, mulai 24 hingga 31 Desember, dengan pelaksanaan terakhir dijadwalkan pada 31 Desember pukul 18.00 WIB.

“Target sedimen yang dapat kami gelontorkan melalui flushing ini sekitar 300 ribu meter kubik. Dalam penghitungan teknis, yang menjadi acuan adalah volume sedimen, bukan ketebalannya,” terangnya.

Ia menambahkan, aliran air dari Bendungan Sampean Baru mengarah ke Sampean Lama dan selanjutnya menuju Kali Sampean di wilayah hilir. Sementara sumber aliran dari hulu berasal dari berbagai sungai di wilayah Kabupaten Bondowoso.

Pelaksanaan flushing juga mempertimbangkan faktor cuaca dan masa tanam petani. Oleh karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPA) serta dinas terkait sebelum kegiatan dilakukan.

“Kami menyesuaikan jadwal flushing dengan masa tanam. Saat ini telah disepakati dilakukan penghentian sementara giliran air agar proses penggelontoran sedimentasi berjalan optimal,” ujarnya.

Terkait banyaknya ikan yang ditangkap warga saat asatan, Wahyu menyebut hal tersebut merupakan hasil penebaran benih ikan yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bondowoso, selain juga berasal dari perkembangbiakan alami.

“Beberapa kali dilakukan penebaran benih ikan, sehingga populasi ikan di bendungan ini cukup melimpah, baik dari hasil pembenihan maupun secara alami,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow