Puluhan Warga Korban Tanah Gerak di Trenggalek Mulai Tempati Hunian Sementara
Sebanyak 27 unit huntara yang dibangun di kawasan relokasi kini sudah siap dihuni. Rumah semi permanen tersebut dibuat untuk menjaga keselamatan warga dari ancaman longsor dan tanah gerak yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.
TRENGGALEK, SJP - Puluhan warga korban bencana tanah gerak di Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh, Trenggalek, akhirnya mulai menempati hunian sementara (huntara) yang disediakan pemerintah, Kamis (04/12/2025).
Rasa lega tampak dari para penyintas yang selama berbulan-bulan hidup dalam kondisi penuh waspada karena rumah mereka berada di zona rawan bencana.
Penyediaan huntara dinilai menjadi langkah penting agar warga dapat hidup dengan lebih aman dan stabil. Sebanyak 27 unit huntara yang dibangun di kawasan relokasi kini sudah siap dihuni.
Rumah semi permanen tersebut dibuat untuk menjaga keselamatan warga dari ancaman longsor dan tanah gerak yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, saat meninjau lokasi menyebut huntara ini menjadi tempat pemulihan sementara sebelum warga beralih ke hunian tetap.
“Kawan-kawan ini sifatnya huntara. Kalau nanti ada keinginan menjadi hunian tetap, ada proses renovasi rumah sebagai hunian tetap,” ujarnya.
Khofifah menilai lokasi huntara cukup strategis karena dekat dengan jalan raya dan permukiman warga lain, sehingga para penyintas tetap mudah beraktivitas. Selain rumah, pemerintah juga menyiapkan fasilitas penting seperti masjid dan kandang ternak komunal.
“Saya rasa ini bisa memberi harapan bagi mereka di huntara bahwa ada opsi melanjutkan kegiatan ekonomi. Lahan belakang juga bisa dipakai menanam sayur atau tanaman lain,” tuturnya.
Ia bahkan menyebut keberadaan kandang komunal akan mempercepat siklus ekonomi warga.
Selain 27 rumah di komplek huntara ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga membangun 11 unit huntara tambahan di pekarangan pribadi milik warga yang terdampak.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, pemerintah tidak hanya fokus membangun rumah, tetapi juga infrastruktur pendukung lainnya.
“Tidak hanya memberikan resettlement tapi juga perbaikan infrastruktur. Aspal dan lain sebagainya segera kita kerjakan,” ungkapnya.
Arifin menjelaskan bahwa pihaknya juga berupaya memperkuat ekonomi warga dengan memanfaatkan lahan sisa untuk kebun dan kandang komunal. Melalui dukungan berbagai pihak, termasuk Baznas dan Pramuka, bibit hewan ternak unggul telah disalurkan ke warga.
“Harapannya ini nanti menjadi ekonomi warga. Bibit yang diberikan kambing domba dropper Australia, 3 bulan sudah bisa dipanen karena beratnya 30 kilo,” jelasnya.
Ia berharap fasilitas tersebut menjadi dorongan baru bagi warga untuk bangkit.
Selain memastikan keselamatan, pemilihan lokasi huntara juga mempertimbangkan kondisi lingkungan. Arifin menyebut kawasan tersebut memiliki vegetasi yang masih rapat sehingga relatif lebih aman dari ancaman tanah gerak berulang.
“Pertimbangannya tentu memilih tanah yang lebih aman. Lokasinya juga tidak jauh dari perkampungan sehingga warga tidak terdisosiasi,” tegasnya.
Di antara warga yang mulai menempati huntara adalah Sumiran, korban tanah gerak yang rumahnya berada di zona bahaya. Wajahnya tampak sumringah saat menerima kunci rumah huntara.
“Mulai hari ini pindah. Kalau sebelumnya tinggal di rumah sendiri, masih layak kalau enggak ada hujan. Tapi kalau hujan enggak berani,” ucapnya.
Bencana tanah gerak di Desa Ngrandu sebelumnya terjadi pada akhir 2024 lalu dan berdampak pada puluhan rumah warga, beberapa di antaranya bahkan hancur total.
Dengan hadirnya huntara ini, pemerintah berharap para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan perlahan memulihkan kondisi ekonomi mereka setelah diterjang bencana. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

