Antrean Gas Melon di Tuban dan Ketergantungan Dapur Rakyat pada Subsidi
Kelangkaan LPG 3 kg di Tuban menyebabkan antrean panjang warga selama lima hari terakhir. Banyak warga kecewa karena tidak mendapatkan gas, sehingga aktivitas rumah tangga dan usaha kecil terganggu.
TUBAN, SJP – Antrean panjang LPG 3 kilogram atau yang akrab disebut gas melon kembali menjadi pemandangan berulang di tengah masyarakat. Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ratusan warga harus datang sejak pagi hanya untuk mendapatkan satu tabung gas yang menjadi penopang utama dapur rumah tangga dan usaha kecil.
Fenomena ini bukan sekadar soal kelangkaan sesaat. Di balik antrean yang mengular, tersimpan potret ketergantungan masyarakat kecil terhadap energi bersubsidi yang hingga kini belum memiliki alternatif yang benar-benar terjangkau.
Sejak pagi, warga sudah memadati pangkalan LPG. Namun, tidak sedikit yang harus pulang tanpa hasil karena stok cepat habis. Kondisi ini langsung berdampak pada aktivitas sehari-hari, mulai dari kebutuhan memasak hingga keberlangsungan usaha mikro.
Mariana, salah satu pelaku usaha rumahan di Kelurahan Karangsari, mengaku harus menghentikan produksi karena kesulitan mendapatkan LPG. Dalam beberapa hari terakhir, ia bahkan harus berburu gas sejak dini hari.
“Sudah beberapa hari saya kesulitan LPG. Tidak bisa produksi kue. Dari pagi antre hanya dapat satu tabung, itu tidak cukup untuk empat kompor,” ujarnya.
Kisah serupa dialami Inawaroh, warga lainnya yang terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak setelah tidak mendapatkan LPG.
“Saya sudah antre dari pagi, tapi tidak kebagian. Akhirnya terpaksa pakai kayu bakar,” katanya.
Di sisi lain, pemilik pangkalan LPG menyebut pasokan sebenarnya tidak mengalami pengurangan. Namun, tingginya permintaan membuat stok cepat terserap dalam waktu singkat. Dalam satu kali pengiriman, ratusan tabung bisa habis hanya dalam hitungan jam.
Lonjakan permintaan ini tidak hanya datang dari warga setempat, tetapi juga dari luar wilayah yang ikut membeli di pangkalan, memperketat persaingan mendapatkan gas bersubsidi.
Situasi ini memperlihatkan persoalan klasik dalam distribusi LPG 3 kilogram: pasokan yang secara administratif dianggap cukup, tetapi di tingkat lapangan tetap terasa langka. Ketimpangan antara kebutuhan riil dan pola distribusi membuat kelompok masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak.
Bagi rumah tangga dan pelaku usaha mikro, LPG 3 kilogram bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi utama aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika akses terhadap gas terganggu, dapur berhenti, produksi tersendat, dan pendapatan ikut terancam.
Fenomena antrean gas melon ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap energi bersubsidi masih sangat tinggi. Tanpa pembenahan distribusi dan penyediaan alternatif energi yang terjangkau, antrean serupa berpotensi terus berulang di berbagai daerah. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Febiana Dendo Ngara, Mahasiswa Magang Unitri.
What's Your Reaction?

