Alih Fungsi Lahan untuk Mikutopia, Ikon Apel Kota Batu Kian Terdesak
Alih fungsi lahan apel untuk kepentingan wisata seperti Mikutopia memperlihatkan tekanan nyata terhadap keberlangsungan ikon Kota Batu. Jika tidak diimbangi kebijakan perlindungan lahan pertanian dan penguatan sektor apel, bukan tidak mungkin identitas Kota Batu sebagai kota apel akan perlahan memudar di tengah ekspansi pariwisata yang kian agresif.
KOTA BATU, SJP – Perkembangan sektor pariwisata di Kota Batu kembali memunculkan polemik. Wana wisata baru Mikutopia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, yang tengah viral, tak hanya memicu kemacetan di ruas Jalan Raya Tulungrejo–Punten, tetapi juga disorot karena berdiri di atas lahan yang sebelumnya merupakan kawasan agrowisata apel, salah satu komoditas yang selama ini menjadi ikon Kota Batu.
Sejumlah warga menilai alih fungsi lahan tersebut menjadi sinyal berkurangnya perhatian terhadap sektor pertanian apel yang telah lama menjadi identitas sekaligus penopang ekonomi lokal. Ironisnya, perubahan ini terjadi di tengah upaya berbagai pihak mempertahankan eksistensi apel sebagai ciri khas daerah.
Muhammad Ikram salah satu warga Desa Tulungrejo mengungkapkan, suara penolakan sebenarnya ada, namun tidak banyak yang berani menyampaikan secara terbuka.
“Banyak yang tidak setuju, tapi memilih diam. Takut mendapat stigma dari yang mendukung. Padahal yang kami pikirkan adalah masa depan desa dan identitasnya,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, lahan yang kini menjadi lokasi Mikutopia merupakan Tanah Kas Desa (TKD) yang sebelumnya disewakan kepada pihak ketiga untuk agrowisata petik apel. Dengan luas sekitar 7 hingga 8 hektare, kawasan tersebut telah dikelola lebih dari 10 tahun, dengan nilai sewa mencapai Rp250 juta hingga Rp300 juta per tahun.
Menurutnya, penurunan produktivitas akibat faktor cuaca dan kondisi tanah memang sempat terjadi, sehingga sebagian lahan mulai dialihkan ke komoditas lain. Bahkan, pengelolaan wisata petik apel pernah dilakukan secara kolektif oleh seluruh RW di Desa Tulungrejo sebagai upaya mempertahankan sektor tersebut..
Namun keterbatasan anggaran desa untuk mengembangkan potensi wisata secara mandiri menjadi alasan utama munculnya kerja sama dengan pihak ketiga. Dari situlah kemudian lahir Mikutopia, yang kini berkembang sebagai destinasi wisata modern dengan berbagai wahana.
"Meski demikian, warga menilai arah pembangunan tersebut perlu dikaji ulang. Pasalnya, alih fungsi lahan produktif terutama lahan apel dikhawatirkan akan semakin mengikis identitas Kota Batu sebagai daerah penghasil apel," imbuhnya.
Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor wisata, menjaga keseimbangan antara investasi dan pelestarian komoditas unggulan dinilai menjadi hal mendesak agar pembangunan tidak justru mengorbankan jati diri daerah. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

