Aktivis dan Pemuda di Tuban Didorong Kawal Proyek Kilang Minyak Senilai Rp377 Triliun

Berdasarkan data PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), nilai investasi proyek GRR Tuban membengkak menjadi sekitar US$23 miliar atau setara Rp377 triliun, dari estimasi awal sebesar US$13,5 miliar.

30 Jun 2025 - 11:07
Aktivis dan Pemuda di Tuban Didorong Kawal Proyek Kilang Minyak Senilai Rp377 Triliun
Seminar kepemudaan dalam acara pelantikan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Tuban periode 2025–2026 di gedung DPRD Tuban, Senin, 30 Juni 2025. (Foto: Istimewa)

TUBAN, SJP—Para aktivis mahasiswa dan pemuda di Kabupaten Tuban didorong untuk terlibat aktif dalam mengawal pembangunan megaproyek kilang minyak di Kecamatan Jenu. Proyek Grass Root Refinery (GRR) yang digarap PT Pertamina (Persero) bersama Rosneft, perusahaan migas asal Rusia, itu tercatat sebagai salah satu investasi terbesar di Indonesia.

Namun sayangnya, di balik menggeliatnya industri di Kabupaten Tuban, angka kemiskinan di Bumi Wali itu masih cukup tinggi. Hal itu disampaikan M . Abdul Rohman, narasumber seminar kepemudaan saat pelantikan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Tuban periode 2025–2026 di gedung DPRD Tuban, Senin (30 /6/2025).

“Para aktivis dan pemuda jangan sampai hanya jadi penonton di rumah sendiri. Sekarang Tuban menjadi daerah tujuan investasi besar. Salah satunya proyek kilang minyak. Kita harus siap menghadapinya,” kata Rohman di hadapan peserta.

Dia mengungkapkan, berdasarkan data PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), nilai investasi proyek GRR Tuban membengkak menjadi sekitar US$23 miliar atau setara Rp377 triliun dari estimasi awal sebesar US$13,5 miliar.

“Skala investasi sebesar itu harus dikawal serius demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Tuban. Peran pemuda sangat penting dalam memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Rohman, yang juga pengurus Karang Taruna Jawa Timur, menegaskan bahwa aktivis mahasiswa harus bersikap kritis dan mampu berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial yang timbul akibat perkembangan industri.

Dia juga menyinggung keberadaan sejumlah industri besar lainnya yang sudah lebih dulu hadir di Tuban. Seperti PT Semen Indonesia, Solusi Bangun Indonesia (SBI), PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), hingga PLTU Tanjung Awar-Awar.

“Keterlibatan aktif pemuda harus menjadi ujung tombak dalam mengawal industrialisasi di Tuban. Tidak hanya mengawasi, tapi juga menyampaikan aspirasi kepada pemangku kebijakan,” kata Rohman.

Hal senada juga disampaikan Ketua DPRD Tuban, Sugiantoro. Dia menegaskan, generasi muda harus mengambil peran strategis di tengah pesatnya laju industrialisasi.

“Pemuda di mana pun harus berperan aktif. Kami di DPRD juga telah menyiapkan sejumlah regulasi untuk memastikan pertumbuhan industri tetap berkelanjutan, adil, dan melindungi hak masyarakat,” tegasnya.

Politikus Partai Golkar itu menyatakan bahwa DPRD Tuban terus melakukan pengawasan terhadap tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), serta dampak lingkungan dari aktivitas industri.

“Industrialisasi bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tapi juga soal keadilan sosial dan perlindungan lingkungan. Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk bersinergi membangun Tuban yang lebih maju,” katanya.

Selain Rohman dan Sugiantoro, seminar tersebut juga menghadirkan narasumber dari Pemkab Tuban. Yakni Kepala Bidang Pelatihan, Penempatan Tenaga Kerja, dan Hubungan Industrial Disnakerin Tuban, Lusiana.

Narasumber lainnya, pengamat industrialisasi Rifki Mukhlason, menekankan pentingnya perencanaan yang matang dalam pembangunan industri.

“Industri itu penting, tapi kalau tidak disiapkan dengan baik, tidak melibatkan masyarakat, dan tidak memperkuat SDM lokal, maka industrialisasi bisa jadi bencana jangka panjang. Bukan berkah pembangunan,” pungkasnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow