Akar Kecil, Dampak Besar: Wisma Jerman dan Gerakan Seribu Mangrove di Surabaya
Kampanye ini tidak hanya sekadar aksi simbolis, tetapi sebuah gerakan nyata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan.
SURABAYA, SJP - Langit pagi di Wisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, tampak begitu cerah. Sinar mentari menembus sela-sela dedaunan hijau, menciptakan bayangan berpola di tanah berlumpur yang sebentar lagi akan dipenuhi tunas-tunas baru.
Angin laut membawa aroma khas hutan bakau, berpadu dengan suara gemericik air dan kicauan burung yang bersembunyi di antara ranting. Di sinilah, sebuah langkah kecil untuk alam dimulai, yakni "Kampanye 1.000 Pohon" oleh Wisma Jerman.
Sejak April 2024, Wisma Jerman menggagas kampanye ini sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap lingkungan. Bersama Kairen EcoSolution dan LindungiHutan, mereka bertekad menanam seribu pohon mangrove untuk memperkuat garis pantai Surabaya dari ancaman abrasi. Dan pada Kamis (20/2/2025), puncak dari perjalanan panjang ini akhirnya terwujud.
Kampanye ini tidak hanya sekadar aksi simbolis, tetapi sebuah gerakan nyata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan. Mike Neuber, Direktur Wisma Jerman, menegaskan bahwa ini adalah salah satu langkah awal yang besar dalam perjalanan panjang menuju kelestarian lingkungan.
"Ini adalah klimaks dari kampanye yang sudah berjalan hampir satu tahun. Hari ini, akhirnya, seribu pohon itu berhasil kita tanam bersama-sama," ujar Mike, Kamis (20/2/2025).
Sejak awal, kampanye ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk individu dan organisasi seperti Aksi Cinta Indonesia (ACI), Komunitas Narasi, EKONID, dan Lotus Arts Course (LAC). Hingga saat ini, tercatat 110 orang berdonasi, dan sekitar 20 relawan hadir langsung untuk menanam pohon.
Proses penanaman dilakukan secara bertahap dengan bantuan dari LindungiHutan karena secara logistik sulit menanam langsung 1.000 pohon dalam satu waktu.
"Kami menanam sebanyak yang kami bisa hari ini, dan sisanya akan dilanjutkan oleh tim dari LindungiHutan," jelas Mike.
Pengalaman turun langsung ke lumpur menjadi momen berharga bagi Mike. Ia awalnya mengira kegiatan ini akan jauh lebih berat, tetapi ternyata berjalan dengan menyenangkan.
"Saya pikir ini akan lebih sulit, tetapi ternyata sangat menyenangkan! Sedikit berlumpur, tapi justru itu yang membuatnya seru," katanya sambil tersenyum.
Selain menikmati pengalaman tersebut, ia juga mencermati beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah fasilitas ekowisata yang masih kurang memadai.
"Sayang sekali, fasilitas kamar mandi masih kurang baik. Tidak ada paku untuk menggantung baju, tempat sabun pun tidak tersedia, dan beberapa keran air tidak bisa digunakan. Sebagai destinasi ekowisata, ini seharusnya lebih diperhatikan," ujarnya.
Namun demikian, Mike menegaskan bahwa Wisma Jerman berkomitmen untuk terus mendukung gerakan lingkungan. Hal tersebut tercermin dari berbagai kegiatan yang mereka rutin gelar tiap tahunnya.
"Kami selalu berusaha menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, tidak hanya dalam kampanye seperti ini. Misalnya, kami sudah mengganti sendok plastik dengan sendok kayu, menggunakan piring kertas, dan memilah sampah di berbagai acara kami," katanya.
Ia juga menyoroti perbedaan kesadaran lingkungan antara Indonesia dan Jerman. Di Jerman, kesadaran akan kebersihan sudah ditanamkan sejak kecil melalui program-program edukasi yang mengajarkan anak-anak pentingnya menjaga lingkungan.
"Di sekolah kami setiap bulan harus membersihkan lingkungan sekolah. Itu mengajarkan bahwa jika kita membuang sampah sembarangan, pada akhirnya kita sendiri yang harus membersihkannya," ujarnya.
Di akhir wawancara, Mike berharap lebih banyak individu dan organisasi yang mengikuti langkah Wisma Jerman.
"Langkah kecil bisa memberikan dampak besar. Kita semua punya peran dalam menjaga bumi ini," tutupnya.
Mangrove: Benteng Alami yang Terancam
Setelah kegiatan penanaman selesai, Abd. Fatah, Humas Wisata Mangrove Wonorejo, memberikan gambaran lebih dalam mengenai pentingnya ekosistem mangrove di Surabaya.
Ekosistem mangrove bukan hanya sekadar hamparan pohon bakau di pesisir. Ia adalah garis pertahanan utama terhadap abrasi yang terus menggerus daratan.
Di Wisata Mangrove Wonorejo, peran mangrove semakin vital karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan perairan yang sering mengalami peningkatan abrasi dan pencemaran.
"Mangrove bukan hanya soal menghijaukan pesisir, mereka adalah benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi dan banjir," kata Fatah.
"Selain itu, hutan mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai spesies ikan dan kepiting yang menopang ekonomi masyarakat pesisir," imbuhnya.
Namun, tantangan besar mengancam kelestarian mangrove di kawasan ini. Sebagai hilir dari Sungai Brantas, kawasan ini menerima aliran air yang membawa berbagai material, termasuk sampah.
Penelitian mahasiswa ITS mengungkapkan bahwa pada ketinggian air 2,7 meter, jumlah sampah yang terkumpul di kawasan ini mencapai 1,2 ton per hari, setara dengan 60-70 karung sampah.
"Sampah yang menumpuk tidak hanya mempengaruhi estetika lingkungan, tetapi juga berdampak pada kelangsungan hidup mangrove di kawasan tersebut. Keberhasilan penanaman mangrove sangat bergantung pada pembersihan sampah," sebutnya.
Selain itu, lumpur di sini cukup dalam, berkisar antara 10 hingga 50 cm. Ombak dan sampah laut juga menjadi kendala, tetapi kami terus berupaya menjaga kawasan ini agar tetap lestari.
Mangrove juga memiliki peran besar dalam menyerap karbon. Satu pohon mangrove bisa menyerap 8 kg CO2 per tahun. Bayangkan jika seribu pohon ini tumbuh besar, betapa besarnya dampak yang bisa kita ciptakan untuk bumi.
Selain manfaat ekologis, kawasan ini juga memiliki potensi sebagai pusat penelitian dan edukasi. Kami ingin Wonorejo menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti, mahasiswa, dan masyarakat yang ingin belajar lebih dalam tentang konservasi mangrove.
Dan di antara lumpur dan akar mangrove yang baru ditanam, harapan itu tumbuh: seribu pohon yang akan menjadi saksi bagaimana manusia dan alam bisa berjalan berdampingan, demi masa depan yang lebih hijau. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

