Kinerja APBN Kediri Raya Sampai Juni 2026 Turun di Penerimaan dan Belanja
Sementara itu, KPPBC TMC Kediri telah mencapai 35,53% dari target tahun 2026, dengan rincian Bea Masuk membukukan sebesar Rp1,65 miliar (59,60%) dan Cukai sebesar Rp9.226,23 miliar (35,52%), masing-masing mengalami kontraksi sebesar -34% dan 11%.
KEDIRI, SJP - Kinerja APBN Kediri Raya sampai dengan akhir Juni Tahun 2026, secara YoY mengalami penurunan baik dari sektor penerimaan maupun sektor belanja. Pendapatan baik dari perpajakan mengalami kontraksi sedangkan PNBP mengalami ekspansi YoY, kontraksi perpajakan sebesar 14,07 persen sedangkan ekspansi PNBP sebesar 0,88 persen.
"Secara total sampai dengan Juni 2026 telah membukukan penerimaan sebesar Rp10.045,33 miliar, Perpajakan sebesar Rp9.798,88 miliar dan PNBP sebesar Rp246,45 miliar, " ujar Kepala KPPN Kediri Moch. Izma Nur Choironi, Senin, (27/7/2026)
Sementara itu, KPPBC TMC Kediri telah mencapai 35,53 persen dari target tahun 2026, dengan rincian Bea Masuk membukukan sebesar Rp1,65 miliar (59,60%) dan Cukai sebesar Rp9.226,23 miliar (35,52%), masing-masing mengalami kontraksi sebesar -34 persen dan 11 persen.
"Konsumsi masyarakat melemah akibat tekanan ekonomi, inflasi, atau kenaikan harga kebutuhan pokok sehingga berdampak pada penurunan permintaan terhadap barang-barang kena cukai khususnya hasil tembakau," tambahnya.
Sedangkan dari sektor belanja, wilayah Kediri Raya telah merealisasikan sebesar 55 persen atau sebesar Rp4.093,601 miliar. Angka itu melampaui capaian belanja secara nasional sebesar 43,1 persen dari APBN.
Pada Belanja Pegawai terserap sebesar Rp642,88 miliar, Belanja Barang sebesar 281,93 miliar, dan Belanja Modal sebesar Rp 40,16 miliar. Sedangkan Belanja Bantuan Sosial yang dimiliki oleh UIN Syekh Wasil sama sekali belum ada penyerapan.
"Dari sisi serapan wilayah, Kabupaten Trenggalek mencatat serapan tertinggi sebesar Rp170,53 miliar (11,75%), disusul Kabupaten Kediri sebesar Rp231,92 miliar (11,24%), Kabupaten Nganjuk sebesar Rp195,11 miliar (10,36%), dan Kota Kediri sebesar Rp147,86 miliar (10,15%)," tambahnya lagi.
Belanja Transfer ke Daerah secara YoY mengalami kontraksi sebesar 13,86 persen. Dana Bagi Hasil terserap sebesar Rp 120,94 miliar, Dana Alokasi Umum sebesar Rp 2.141,92 miliar, Dana Alokasi Khusus Fisik Rp 4,03 miliar. Dana Alokasi Khusus Non-Fisik sebesar Rp609,35 miliar, sedangkan Insentif Fiskal yang diberikan kepada daerah dengan prestasi kinerja tertentu belum ada realisasi dan Dana Desa sebesar 251,79 miliar.
Penyaluran Kredit Program sampai dengan Juni 2026 masih menunjukkan ekspansi secara YoY, jumlah debitur sebesar 63.252 tumbuh sebesar 3,31 persen dengan nilai penyaluran sebesar Rp2.970,23 miliar ekspansi sebesar 18,73 persen.
Sedangkan Penyaluran KUR juga masih menunjukkan ekspansi nominal secara YoY, jumlah debitur sebesar 51.280 kontraksi sebesar 1,83 persen dengan nilai penyaluran sebesar Rp2.901,96 miliar ekspansi sebesar 19,02 persen.
"Sedangkan Penyaluran UMi (ultra mikro) menunjukkan ekspansi secara YoY, jumlah debitur sebesar 11.972 tumbuh sebesar 10,19 persen dengan nilai penyaluran sebesar Rp 59, 88 miliar ekspansi sebesar 6,07 persen," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

