Program Cek Kesehatan Gratis Bojonegoro Capai Lebih dari 500 Ribu Warga, Tempati Urutan Kedua Jatim
Dari hasil pelaksanaan CKG sejauh ini, ditemukan beberapa penyakit yang paling sering dijumpai, antara lain obesitas sentral sebanyak 103.039 kasus (31,06%), karies gigi sebanyak 58.315 kasus (32,47%), serta hipertensi sebanyak 63.145 kasus (18,8%). Temuan tersebut menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan untuk memperkuat upaya promotif dan preventif di tingkat masyarakat.
BOJONEGORO, SJP – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Bojonegoro menunjukkan capaian yang signifikan dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Hingga 10 November 2025, sebanyak 528.155 warga Bojonegoro telah memanfaatkan layanan ini, atau setara dengan 39,85 persen dari total sasaran yang ditetapkan.
Capaian impresif ini menempatkan Kabupaten Bojonegoro di urutan kedua se-Jawa Timur. Hal ini menjadi indikator kuat komitmen Pemerintah Kabupaten dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Ninik Susmiyati, menjelaskan bahwa program CKG mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai kalangan masyarakat.
“Antusiasme masyarakat tinggi, baik dari kalangan pelajar hingga masyarakat umum. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya deteksi dini penyakit semakin meningkat,” ujar Ninik.
Pemanfaatan layanan CKG tersebar merata di berbagai kelompok usia, dengan rincian sebagai berikut: siswa SD sebanyak 81.810; siswa SMP 37.467; siswa SMA 24.203; dan Warga Umum sebanyak 360.375 orang.
Pelaksanaan program CKG dilakukan serentak di seluruh kecamatan melalui 35 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada di Bojonegoro.
Dari hasil pelaksanaan CKG sejauh ini, ditemukan beberapa penyakit yang paling sering dijumpai, antara lain obesitas sentral sebanyak 103.039 kasus (31,06%), karies gigi sebanyak 58.315 kasus (32,47%), serta hipertensi sebanyak 63.145 kasus (18,8%). Temuan tersebut menjadi dasar bagi dinkes untuk memperkuat upaya promotif dan preventif di tingkat masyarakat.
Temuan data ini menjadi landasan strategis bagi dinkes untuk memperkuat upaya promotif dan preventif di tingkat komunitas.
Dinas kesehatan telah menggelar berbagai langkah strategis untuk mengintensifkan capaian program.
Beberapa langkah tersebut mencakup pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor CKG umum dan sekolah integrasi CKG pada berbagai momentum kegiatan daerah, seperti kegiatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di lingkungan pabrik, selama bulan Ramadan, pameran UMKM, hingga setiap acara resmi kabupaten, semua pengunjung Puskesmas, baik yang datang dalam kondisi sakit maupun sehat, turut dijadikan sasaran pemeriksaan dan penetapan 35 Person In Charge (PIC) CKG di seluruh Puskesmas, serta penginputan data secara aktif pada laman ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku) untuk memastikan data kesehatan masyarakat selalu terpantau dan terintegrasi.
Ninik Susmiyati berharap program CKG dapat menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Bojonegoro secara berkelanjutan.
“Melalui pemeriksaan rutin setiap tahun, masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Bila hasilnya normal, dapat terus menjaga pola hidup sehat. Bila ada faktor risiko, akan dilakukan konseling dan perubahan gaya hidup. Sedangkan bagi yang terdeteksi penyakit, langsung ditangani sesuai prosedur,” jelasnya.
Sebagai daerah yang terus berinovasi, Bojonegoro menaruh harapan besar agar CKG menjadi gerakan kolektif. Pemeriksaan rutin ini dinilai bukan sekadar deteksi penyakit, tetapi merupakan langkah nyata menuju Bojonegoro Sehat dan Tangguh, di mana setiap warga berperan aktif membangun budaya hidup sehat demi masa depan yang lebih berkualitas. (***)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

