Universitas Ciputra Ambil Peran Pemerataan Dokter Spesialis, Jawab Krisis Layanan Kesehatan di Luar Jawa
Selain membuka PPDS obgyn dan bedah sebagai langkah konkret pemerataan layanan kesehatan nasional, Fakultas Kedokteran UC juga menyiapkan program beasiswa bagi calon peserta PPDS yang berasal dari wilayah Indonesia Timur.
SURABAYA, SJP - Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam layanan kesehatan, bukan hanya soal jumlah dokter spesialis yang minim, namun juga distribusi layanan kesehatan yang masih timpang, khususnya di luar pulau Jawa.
Ketika kebutuhan terus meningkat, terutama di luar Pulau Jawa, Universitas Ciputra (UC) Surabaya menyatakan komitmennya untuk ikut mengambil peran strategis dalam pemerataan tenaga medis nasional.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) pada dua bidang krusial, yakni obstetri dan ginekologi (obgyn) serta bedah, dengan misi bukan sekadar mencetak spesialis unggul, tetapi juga memastikan kehadiran mereka di daerah-daerah yang selama ini kekurangan.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, hingga kini Indonesia masih mengalami defisit dokter spesialis, khususnya di wilayah luar Pulau Jawa.
Rasio dokter spesialis nasional belum mencapai standar ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terutama pada bidang-bidang layanan rujukan utama seperti obstetri dan bedah.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas dan akses layanan kesehatan masyarakat. Di banyak daerah, pasien harus dirujuk jauh ke kota besar hanya untuk mendapatkan layanan spesialis, yang pada akhirnya memperbesar risiko keterlambatan penanganan medis.
Ketimpangan distribusi itu menjadi tantangan besar, mengingat wilayah Indonesia Timur justru memiliki kebutuhan tinggi akan dokter spesialis, namun jumlah tenaga medis yang tersedia masih sangat terbatas.
UC Surabaya Siapkan PPDS Obgyn dan Bedah
Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya menyatakan siap terlibat aktif melalui pembukaan dua program PPDS. Dekan Fakultas Kedokteran UC, Hendy Hendarto, memastikan bahwa pihaknya telah mengantongi izin resmi untuk membuka PPDS obgyn dan bedah.
Ia menegaskan, kedua program tersebut dirancang dengan pendekatan yang tidak hanya akademik, tetapi juga berpihak pada kebutuhan nasional.
"Untuk spesialis Obgyn, kami membawa misi meningkatkan jumlah dokter spesialis di Indonesia Timur. Kebutuhan akan dokter spesialis masih sangat tinggi, sementara distribusinya belum merata," kata Hendy saat dikonfirmasi pada Senin (26/1/2026).
Khusus PPDS obgyn, UC menempatkan isu pemerataan sebagai prioritas utama. Bidang itu dinilai sangat strategis karena berkaitan langsung dengan kesehatan ibu dan anak, serta menjadi salah satu indikator utama kualitas layanan kesehatan daerah.
Melalui program tersebut, UC berharap dapat mencetak dokter spesialis obgyn yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga siap mengabdi di wilayah yang selama ini minim layanan spesialis.
Sementara itu, PPDS Bedah di UC dirancang mengikuti perkembangan teknologi kedokteran modern. Mahasiswa akan dibekali kemampuan operasi minimal invasif, yang kini menjadi standar dalam penanganan berbagai kasus bedah.
"Teknologi operasi terus berkembang. Karena itu, selain kemampuan dasar bedah, dokter juga harus menguasai teknik minimal invasif agar pelayanan lebih efektif dan pemulihan pasien lebih cepat," ujarnya.
Penguasaan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan bedah, sekaligus mempercepat proses pemulihan pasien di berbagai fasilitas kesehatan.
Beasiswa untuk Putra-Putri Indonesia Timur
Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pemerataan, Fakultas Kedokteran UC juga menyiapkan program beasiswa bagi calon peserta PPDS yang berasal dari wilayah Indonesia Timur.
Program itu diberikan dengan persyaratan khusus, termasuk komitmen untuk kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan spesialis.
"Harapannya, lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat di daerah yang masih kekurangan tenaga medis spesialis," ucap Hendy.
Skema ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan pemerataan, sekaligus mencegah penumpukan dokter spesialis di kota-kota besar.
UC memastikan kesiapan penyelenggaraan PPDS itu didukung oleh pembangunan tower khusus Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menunjang pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi dokter spesialis secara berkelanjutan.
Dengan dukungan fasilitas, kurikulum berbasis kebutuhan nasional, serta komitmen pengabdian daerah, UC menilai kehadiran PPDS obgyn dan bedah itu dapat menjadi solusi strategis nasional dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

