Tren “Work From Cafe” di Kota-Kota Jawa Timur, Antara Produktivitas dan Gaya Hidup
Camping di kaki Gunung Ijen jadi tren healing baru. Anak muda memilih kembali ke alam untuk melepas penat dan menemukan ketenangan.
SURABAYA, SJP – Fenomena work from cafe (WFC) kini menjadi gaya hidup baru di berbagai kota di Jawa Timur. Tak hanya di Surabaya, tren ini juga menjamur di Malang, Kediri, hingga Jember. Kafe yang dulunya identik dengan tempat nongkrong santai, kini berubah fungsi menjadi ruang kerja alternatif yang dipenuhi mahasiswa, freelancer, hingga karyawan kantoran dengan sistem hybrid.
Bagi banyak orang, bekerja dari kafe dianggap lebih produktif. Suasana yang lebih hidup, akses Wi-Fi cepat, dan aroma kopi yang menenangkan menjadi kombinasi sempurna untuk memunculkan ide-ide segar. Interior estetik juga menambah semangat kerja, bahkan kerap dijadikan latar foto untuk media sosial. Tak heran, banyak pekerja menyebut kafe sebagai tempat yang bisa menggabungkan “kerja serius” dengan gaya hidup urban.
Meski demikian, tren WFC bukan tanpa kendala. Keramaian kadang jadi distraksi, suara mesin kopi atau obrolan di meja sebelah bisa mengganggu konsentrasi. Ada pula yang menilai WFC membuat pengeluaran lebih besar karena harus memesan menu berkali-kali selama bekerja berjam-jam. Namun, bagi sebagian orang, biaya tambahan ini dianggap setimpal dengan kenyamanan dan fleksibilitas yang ditawarkan.
Melihat peluang ini, banyak pemilik kafe mulai beradaptasi. Mereka menyediakan fasilitas tambahan seperti stop kontak di setiap meja, kursi ergonomis, hingga ruang semi-privat untuk rapat kecil. Beberapa bahkan menawarkan paket “work from cafe” berupa menu hemat plus akses internet seharian. Inovasi ini membuat kafe tak hanya menjadi tempat nongkrong, melainkan juga ruang kerja yang ramah produktivitas.
Di sisi lain, WFC perlahan membentuk budaya baru. Bekerja tidak lagi sekadar urusan kantor, tetapi juga bagian dari gaya hidup. Anak muda di Jawa Timur semakin menjadikan kafe sebagai “kantor kedua” sekaligus ruang bersosialisasi. Dari sinilah lahir komunitas-komunitas baru, mulai dari penulis, desainer grafis, sampai pengusaha rintisan yang memanfaatkan suasana kafe untuk bertukar ide.
Fenomena WFC menegaskan bahwa cara kerja generasi sekarang telah berubah. Bekerja tak lagi terikat pada ruang dan waktu, melainkan bisa dilakukan di mana saja, termasuk di balik secangkir kopi di kafe favorit. (**)
Editor : Rizqi Ardian
Sumber: Dari Berbagai Sumber
What's Your Reaction?

