Trauma Picu Kecanduan Judi Online, Ribuan Rekening Bansos Terindikasi Terlibat

Ratusan ribu rekening penerima bansos terindikasi digunakan untuk judi online. Psikiater dr Jiemi Ardian menyebut kecanduan ini sering dipicu trauma dan harus ditangani secara profesional agar tidak berdampak pada diri sendiri dan keluarga.

14 Jul 2025 - 16:32
Trauma Picu Kecanduan Judi Online, Ribuan Rekening Bansos Terindikasi Terlibat
Situs judi online m88.com.(istimewa)

SUARAJATIMPOST.COM - Kecanduan judi online (judol) memang menjadi masalah. Temuan PPATK mencatat 571.410 rekening penerima bantuan sosial (bansos) terindikasi digunakan untuk aktivitas judol dengan nilai transaksi mencapai Rp957 miliar.

Psikiater dr Jiemi Ardian mengatakan, seseorang yang mempunyai masalah judol sebagian kasusnya karena memiliki trauma yang ingin dihilangkan namun dengan cara yang ekstrem.

"Sebagiannya itu karena trauma makanya dia kecanduan, berusaha mengisi kesenangan dengan cara ekstrem, berusaha mengisi kesenangan yang besar, yang kalau orang normal enggak butuh intensitas kesenangan sebesar itu," katanya dia seperti dilansir dari Antara, Minggu (13/7/2025).

Dokter lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta ini mengatakan, orang dengan trauma membutuhkan suatu pelampiasan yang bisa membuatnya senang dengan intensitas yang besar, maka itu lebih mudah mengalami kecanduan karena memberikan akses kesenangan yang besar.

Jiemi juga mengatakan orang yang memiliki trauma namun tidak disembuhkan maka akibatnya tidak hanya mengalami kecanduan pada sesuatu namun juga memiliki perilaku kasar atau jadi temperamen.

Ia menambahkan berhentinya seseorang dari judi online juga bukan berarti ia sudah sembuh dari trauma, melainkan harus diikuti dengan berkurangnya perilaku mengganggu yang mengikutinya.

"Jadi kita tidak bisa menganggap sembuh judi itu hanya sebatas abstinence atau berhentinya judi. Tapi berhentinya judi dan hilangnya gejala aneh-aneh yang lain atau gejala mengganggu yang lain, itu baru kita bisa sebut sebagai sembuh," kata Jiemi.

Jiemi mengatakan orang yang melakukan judi online juga bisa mengalami depresi yang akan berimbas pada orang terdekat di keluarganya yang akan menimbulkan trauma atau secondary trauma.

Hal itu karena keluarga yang "tertular" trauma tersebut menjadikan referensi judi online adalah hal yang buruk, dan nantinya bisa memicu kemarahan hanya dengan melihat konten judi online.

Ia mengatakan kecanduan yang juga merupakan salah satu dari bagian trauma perlu ditangani oleh profesional sebagai bentuk tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan kesadaran akan pengaruhnya pada keluarga. (**)

Editor: Rizqi ArdianĀ 

Sumber : Beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow