Tradisi Sedekah Bumi di Tuban: Budaya Warisan Leluhur yang tak Lekang oleh Zaman

Warga Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi di sumber mata air Sumur Denok. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang dijalankan sebagai bentuk syukur atas hasil panen serta permohonan agar desa terhindar dari penyakit dan bencana.

10 Jun 2025 - 08:14
Tradisi Sedekah Bumi di Tuban: Budaya Warisan Leluhur yang  tak Lekang oleh Zaman
Ratusan warga Desa Wolutengah tumpah ruah diacara sedekah bumi Sumur Denok Desa Wolutengah Kecamatan Kerek Tuban. (Foto : Atma/SJP)

TUBAN, SJP—Pagi belum sepenuhnya terik di Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, namun ratusan warga mulai berdatangan ke sumber mata air Sumur Denok. Mengenakan pakaian sederhana, mereka memanggul berbagai macam makanan, sesaji, dan hasil bumi. 

Hari keramat itu bukan hari biasa. Bagi masyarakat Wolutengah, ini adalah momen sakral: sedekah bumi—sebuah tradisi warisan leluhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ritual sedekah bumi bukan sekadar prosesi adat. Ia menjadi manifestasi dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam tradisi ini, masyarakat menyampaikan rasa syukur atas panen yang melimpah, sekaligus permohonan agar desa mereka dijauhkan dari pagebluk, atau mara bahaya.

Di tengah keramaian, suara gemuruh doa dan lantunan mantra terdengar mengiringi penyembelihan seekor sapi. Dagingnya kelak dimasak bersama dan disantap dalam ritual kenduri massal—sebuah lambang kebersamaan yang sarat makna sosial.

“Sedekah bumi ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah bentuk syukur kami kepada Tuhan, juga sebagai ikhtiar menolak balak,” kata Kepala Desa (Kades) Wolutengah, Rasdan, kepada wartawan, Selasa (10/6/2025).

Menurut Rasdan, tradisi ini sudah berlangsung jauh sebelum dirinya menjabat kades. Dari penuturan para sesepuh desa, Sumur Denok dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan menjadi pusat energi kehidupan masyarakat setempat.

Airnya tidak pernah surut meskipun kemarau panjang melanda. Sehingga tidak heran jika lokasi ini menjadi tempat utama pelaksanaan sedekah bumi.

Namun, di balik semaraknya upacara, tantangan besar membayangi. Arus modernisasi perlahan menggerus minat generasi muda terhadap tradisi lokal. Tak sedikit anak muda yang lebih memilih pergi ke kota, meninggalkan kampung halaman dan kearifan lokal yang menghidupi identitas mereka.

“Kadang kami khawatir, apakah anak-anak kami nanti masih mau melanjutkan ini,” ujar Lastri, salah satu warga yang sudah tiga dekade ikut menyiapkan sesaji sedekah bumi.

Lastri berharap, pemerintah maupun sekolah-sekolah di desa lebih banyak mengajarkan sejarah dan makna tradisi semacam ini.

Rasdan menyadari hal itu. Oleh karena itu, sejak beberapa tahun terakhir, dia mendorong agar sedekah bumi dikemas dengan lebih terbuka, melibatkan pelajar, komunitas budaya, hingga konten kreator lokal.

“Salah satunya adalah dengan mengundang pentas Langgen Tayub, kesenian asli Tuban, agar anak-anak muda juga merasa bangga dan tertarik mengenalnya,” kata dia.

Langgen Tayub menjadi penutup acara sedekah bumi sore hari. Musik gamelan mengalun pelan. Para penari menari dengan gemulai. Sesekali mengajak penonton bergoyang bersama.

Bukan sekadar hiburan, tayub dalam konteks ini adalah bagian dari spiritualitas rakyat—seni yang membumikan rasa syukur dan kegembiraan.

Bagi masyarakat Wolutengah, sedekah bumi adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Sebuah peneguhan bahwa identitas kultural tidak hanya hidup di masa lampau, tetapi juga bisa tumbuh dan berdialog dengan zaman.

“Tradisi ini harus terus dijaga. Karena dari sinilah kita belajar siapa kita sebenarnya,” pungkas Rasdan mengakhiri sambutannya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow