Tingkatkan Literasi di Ruang Publik, Warga Inisiasi Kotak Baca di Taman Maramis Probolinggo
Sebuah kotak baca sederhana berdiri di salah satu sudut taman, menawarkan alternatif kegiatan positif bagi pengunjung, khususnya anak-anak dan pelajar, untuk membaca buku di tengah ruang terbuka hijau.
PROBOLINGGO, SJP–Suasana di Taman Maramis, Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, kini tampak berbeda dengan kehadiran fasilitas baru.
Sebuah kotak baca sederhana berdiri di salah satu sudut taman, menawarkan alternatif kegiatan positif bagi pengunjung, khususnya anak-anak dan pelajar, untuk membaca buku di tengah ruang terbuka hijau.
Kotak baca tersebut merupakan inisiatif mandiri dari Wulandari (39), warga Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Kanigaran. Fasilitas berukuran sekitar 30 x 30 sentimeter ini menampung 29 buku dengan koleksi beragam, mulai dari buku cerita bergambar hingga novel ringan yang menyasar pembaca usia sekolah.
“Ide awal pembuatan kotak buku literasi ini terinspirasi dari kebiasaan orang luar negeri yang menaruh buku di kotak depan rumahnya. Dari situlah saya kemudian mencobanya di Taman Maramis,” ujar Wulandari.
Gagasan tersebut muncul dari keinginan untuk menumbuhkan budaya literasi di ruang publik.
Wulandari berharap pengunjung taman tidak hanya datang untuk bersantai atau berolahraga, tetapi juga dapat memanfaatkan waktu dengan membaca koleksi buku yang tersedia secara gratis.
Tujuan utama penyediaan kotak baca ini adalah memberikan pilihan aktivitas bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan adanya fasilitas ini, anak-anak dapat menikmati bacaan dalam suasana yang lebih santai tanpa harus berkunjung ke perpustakaan formal.
Sebelum merealisasikan inisiatif tersebut, Wulandari telah mengurus perizinan kepada Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Koordinasi dilakukan terkait titik penempatan agar tidak mengganggu estetika taman. Pihak DLH pun turut memberikan dukungan dalam proses pemasangan dan pengawasan di lapangan.
Wulandari menjelaskan terdapat perbedaan sumber pendanaan antara kotak baca di Taman Maramis dengan yang sebelumnya ia dirikan di Taman Semeru.
Jika di Taman Semeru pembiayaan sepenuhnya menggunakan dana pribadi, untuk fasilitas di Taman Maramis dikelola melalui skema kreatif.
“Berbeda dengan kotak baca di Taman Semeru yang menggunakan dana pribadi, untuk kotak baca di Taman Maramis mulai dari pembuatan kotak hingga pembelian buku berasal dari keuntungan penjualan kaos yang saya jual melalui media sosial,” jelasnya.
Kendati demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah risiko kehilangan koleksi buku. Wulandari mengungkapkan bahwa selama satu tahun beroperasi, kotak baca di Taman Semeru telah kehilangan sebanyak 66 buku. Hal ini menjadi kekhawatiran bagi keberlangsungan program literasi tersebut.
“Harapan kami, buku-buku yang saya letakkan tidak dicuri lagi. Karena jika ini terus terjadi, maka stok buku yang saya punya tidak bisa mengisi kembali kotak baca, khususnya yang ada di Taman Semeru,” imbuh Wulandari.
Melalui gerakan ini, ia berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas publik semakin meningkat. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar kotak baca di taman kota tetap berfungsi sebagai ruang literasi terbuka yang berkelanjutan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

