Tiga Zona di Kota Batu Jadi Sorotan Dinkes Akibat Tingginya Kasus DBD

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, Susana Indahwati pada Minggu (1/6/2025) mengungkapkan bahwa meskipun secara umum jumlah kasus DBD di Kota Batu menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kewaspadaan tetap ditingkatkan.

01 Jun 2025 - 18:59
Tiga Zona di Kota Batu Jadi Sorotan Dinkes Akibat Tingginya Kasus DBD
Ilustrasi fogging yang dilakukan Dinkes Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menetapkan tiga wilayah dengan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi sepanjang tahun 2025 sebagai zona prioritas penanganan.

Ketiga wilayah tersebut adalah Kelurahan Sisir, Temas, dan Ngaglik yang secara berturut-turut mencatat 22, 16, dan 15 kasus DBD hingga akhir Mei 2025. Lonjakan kasus di tiga wilayah ini membuat Dinkes mengarahkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, Susana Indahwati pada Ahad (1/6/2025) mengungkapkan, meskipun secara umum jumlah kasus DBD di Kota Batu menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kewaspadaan tetap ditingkatkan.

"Total kasus DBD Januari hingga April 2024 tercatat 189 kasus, sementara tahun ini turun menjadi 66 kasus. Tapi kami tidak boleh lengah, apalagi di tiga wilayah dengan jumlah kasus tinggi seperti Sisir, Temas, dan Ngaglik," ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Dinkes memperkuat pelaksanaan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus di zona-zona yang dianggap rawan. Program ini mencakup kegiatan menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air, serta langkah tambahan seperti pemberian larvasida dan edukasi masyarakat.

Puskesmas setempat juga digerakkan untuk aktif menyosialisasikan pentingnya kebersihan lingkungan serta menyediakan abate bagi warga yang membutuhkan.

Selain intervensi rutin, Dinkes Kota Batu juga mencatat keterlibatan aktif masyarakat dalam aksi massal PSN di Kecamatan Bumiaji, yang sebelumnya mencatat 18 kasus DBD hingga akhir Mei.

Langkah ini dilakukan di 37 dusun sebagai respons terhadap kondisi lingkungan yang lembap dan mendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.

Susan menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama, melainkan alternatif terakhir mengingat potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia.

“Dinkes juga mengingatkan bahwa kondisi iklim seperti musim hujan dan pancaroba turut memicu peningkatan kasus. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan. Kami imbau warga untuk melakukan PSN minimal di rumah sendiri. Pastikan tidak ada tempat yang bisa menampung air hujan di halaman atau dalam rumah,” imbuhnya.

Dengan menjadikan Sisir, Temas, dan Ngaglik sebagai zona fokus, Dinkes berharap bisa menekan laju penyebaran DBD dan mencegah munculnya kasus baru.

Masyarakat juga diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami demam lebih dari tiga hari, agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow