Tidak Perlu Panik, Pakar UNAIR Ingatkan Superflu Bisa Dicegah dengan Pola Hidup Sehat
Penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi solusi utama mencegah superflu, karena virus menular lewat droplet dan dapat ditekan dengan kebiasaan sederhana sehari-hari.
SURABAYA, SJP — Memasuki awal tahun 2026, Kementerian Kesehatan RI merilis perkembangan terbaru terkait kasus superflu di Indonesia. Hingga saat ini, tercatat 62 kasus superflu yang tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 23 pasien positif.
Menanggapi situasi tersebut, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Airlangga (UNAIR) menilai masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Kewaspadaan tetap diperlukan, namun harus diimbangi dengan langkah pencegahan yang tepat, terutama melalui penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Mirip Seperti Flu Biasa
Dosen Luar Biasa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR, dr Windhu Purnomo, menjelaskan bahwa secara klinis, gejala superflu tidak jauh berbeda dengan flu biasa. Gejala seperti demam, batuk, dan pilek masih menjadi keluhan utama, sehingga masyarakat sering kali sulit membedakannya secara kasat mata.
"Secara umum gejalanya sama dengan flu biasa yaitu demam, batuk, dan pilek. Jadi secara kasat mata sulit membedakan dengan flu biasa" ungkap dr Windhu, Senin (12/6/2026)
Kendati demikian, dr Windhu mengingatkan agar masyarakat tetap waspada jika muncul tanda-tanda yang lebih serius, seperti sesak napas atau kondisi sakit yang tidak kunjung membaik. Pada kondisi tersebut, pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis.
Dalam proses diagnosis, superflu tidak cukup dikenali hanya dari gejala klinis. dr Windu menyebut perlu adanya pengujian laboratorium lanjutan berupa Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi keberadaan virus H2N3 pada manusia.
"Salah satu perbedaan superflu dengan flu biasa juga dapat dilihat dari tingkat penularannya yang lebih cepat dibandingkan flu biasa," jelasnya.
Meski penularannya relatif cepat, dr Windhu menegaskan bahwa superflu bukan penyakit yang sangat berbahaya. Hal itu tercermin dari rendahnya angka perawatan di rumah sakit maupun tingkat fatalitas. Namun, kondisi tersebut sangat bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing individu.
"Kalau imunitas tubuh seseorang itu kuat, penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya, tapi tetap jangan dianggap remeh," ujar dia.
Kenapa PHBS Penting?
Sebagai langkah pencegahan utama, dr Windhu menekankan pentingnya penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dikarenakan superflu menyebar melalui droplet, kebiasaan menjaga kebersihan diri menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan.
"Gunakan masker dan tutupi hidung dan mulut saat batuk atau bersin. Droplet ini dapat menjadi media penularan superflu," sebutnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mencuci tangan secara rutin, berolahraga teratur, serta memastikan tubuh mendapatkan istirahat yang cukup. Masyarakat juga diminta lebih kritis dalam menerima informasi terkait superflu dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Tak hanya masyarakat, pemerintah juga diharapkan terus memperkuat surveilans kesehatan. Pendataan kasus dengan gejala serupa flu atau Influenza Like Illness (ILI) perlu dilakukan secara rutin untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium yang akurat.
"Masyarakat tidak perlu panik. Jaga kesehatan dan terapkan PHBS, sementara pemerintah harus menyampaikan data yang benar tanpa menimbulkan ketakutan," pungkasnya.
Dengan pendekatan yang seimbang antara kewaspadaan dan edukasi, Windhu optimistis penyebaran superflu dapat dikendalikan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

