Tanpa Pendamping, Tanpa Kursi Roda: Kisah Jemaah Haji Tertua di Usia 104 Tahun
Fatahula, 104 tahun, jemaah haji tertua Debarkasi Surabaya, tak hanya kuat tawaf tiap hari, ia bahkan mendorong kursi roda jemaah lain di Tanah Suci.
SURABAYA, SJP—Proses pemulangan jemaah haji dari Tanah Suci ke Tanah Air terus berlangsung. Sejak akhir Juni, Bandara Juanda dan Asrama Haji Surabaya menjadi titik singgah ribuan jemaah asal Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara yang baru saja menuntaskan salah satu rukun Islam, yakni berhaji.
Di antara lautan jubah putih, kursi roda, koper-koper berat, dan wajah-wajah lelah namun bahagia, ada satu momen yang mencuri perhatian para petugas dan sesama jemaah, yaitu seorang kakek tua, berjalan tenang, tidak dipapah, tidak digendong, tidak pula naik kursi roda. Namanya Fatahula La Aba. Umurnya 104 tahun.
Haji tanpa Pendamping, Tanpa Kursi Roda, Tanpa Komplain
Lahir pada 14 Desember 1920 di Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Fatahula menjadi jemaah haji tertua Debarkasi Surabaya 2025.
Dia tiba bersama kloter 75 pada Jumat (4/7/2025) lalu, sekitar pukul 23.15 WIB. Tapi jangan bayangkan dia hadir dalam kondisi rapuh dan butuh pengawasan ekstra. Fatahula duduk tenang di tengah rombongan, jalannya masih tegak, wajahnya jernih, hanya pendengaran yang sedikit terganggu.
"Alhamdulillah, seumur hidup saya belum pernah opname di rumah sakit. Tidak punya darah tinggi, kolesterol, atau diabetes," ujar Fatahula sambil tersenyum bangga, Ahad (6/7/2025).
"Tak ada resep khusus darinya soal hidup sehat. Saya rasa ini karunia dari Allah SWT," imbuhnya.
Meski usianya lebih dari satu abad, dia berangkat ke Tanah Suci tanpa pendamping. Istrinya telah lama meninggal. Anak-anaknya ada 12 orang, tentu ingin menemani, tapi urusan administratif tidak semudah itu.
"Anak saya belum daftar haji lima tahun, jadi belum bisa ikut. Saya berangkat sendiri, alhamdulillah," ungkapnya.
Ikut Dorong kursi Roda Jemaah
Di Tanah Suci, justru Fatahula yang mendorong kursi roda jemaah lain, bukan sebaliknya. Menurut Arifin Daeng Ahmad (60 tahun), teman sekamarnya selama di Makkah, Fatahula ikut tawaf setiap hari tanpa bantuan apapun. Tak sekali pun ia menyentuh kursi roda.
"Beliau malah bantu mendorong kursi roda milik jemaah lain. Kami sampai takjub," kata Arifin.
"Saking kuatnya, kami kadang nggak ajak beliau ke Masjidil Haram karena jaraknya lumayan jauh dari hotel. Tapi kalau tahu dirinya nggak diajak, beliau bisa marah. Katanya dia masih kuat," sambungnya.
Seluruh rangkaian ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) dilaluinya tanpa skema murur, sebuah mekanisme khusus untuk jemaah berisiko tinggi agar tak kelelahan. Bahkan dalam hal makan, Fatahula tidak meminta makanan khusus lansia. Ia menyantap menu reguler seperti jemaah lainnya.
Perjalanan haji Fatahula dimulai sejak ia mendaftar pada tahun 2019. Setelah menunggu enam tahun, ia akhirnya bisa berangkat di usia yang sudah lebih dari satu abad.
Dan kini, pada hari Ahad (6/7/2025), Fatahula akan terbang kembali ke kampung halamannya di Maumere, bersama 34 jemaah lainnya asal Kabupaten Sikka.
Meski tubuhnya tak sekuat dulu, semangatnya justru seperti anak muda yang baru saja menemukan hidup.
"Saya berharap Allah menerima haji saya, dan saya pulang jadi haji yang mabrur," tuturnya.
Fatahula bukan hanya pulang membawa gelar "haji". Ia juga membawa inspirasi bahwa keikhlasan, kekuatan hati, dan niat yang teguh bisa membawa siapa saja menembus batas usia dan fisik hingga ke Tanah Suci. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

