Tak Perlu ke Eropa, Mahasiswa UKWMS Belajar Budaya Musim Dingin Lewat Festival
Belajar budaya musim dingin kini tak perlu ke luar negeri, UKWMS menghadirkan pengalaman winter ala Eropa lewat Winter Festival yang dikemas interaktif dan terbuka untuk umum.
SURABAYA, SJP - Keberagaman budaya dari berbagai negara di dunia selalu menarik untuk dipelajari, mulai dari tradisi, kebiasaan sehari-hari, hingga perayaan musiman yang sarat makna. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk pergi ke luar negeri dan mengalami langsung kehidupan lintas budaya tersebut.
Di sinilah peran institusi pendidikan menjadi penting, menghadirkan pengalaman internasional ke dalam ruang belajar agar mahasiswa tetap dapat memahami dunia secara lebih luas.
Upaya itulah yang dilakukan Laboratorium Self Access Center (SAC) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) melalui gelaran Winter Festival bertema The Magic of Warmth in Cold.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Seasonal Celebration yang digelar pada Jumat (5/12/2026) di Auditorium St. Albertus, UKWMS Kampus Kalijudan.
Festival itu dirancang untuk memperkaya wawasan budaya mahasiswa dengan mengadaptasi perayaan musim dingin yang umum dirayakan di berbagai negara Barat.
Koordinator SAC, Clementin Kortisarom, menjelaskan bahwa Winter Festival dikemas tidak hanya sebagai acara hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran lintas budaya yang interaktif.
Dalam pelaksanaannya, festival tersebut menghadirkan tiga sub acara utama, yakni cultural insight, cooking competition berupa dekorasi kue, serta kegiatan Secret Santa yang identik dengan tradisi musim dingin.
"Winter Festival ini memiliki tiga sub acara, yakni cultural insight, cooking competition – cookies decoration, dan Secret Santa. Selain untuk mahasiswa, acara ini juga terbuka untuk umum maupun siswa SMA/SMK," ucap Clementin, Senin (5/1/2026).
Untuk memperkuat atmosfer musim dingin, panitia secara khusus mengatur suhu ruangan agar menyerupai kondisi winter di luar negeri. Para peserta juga diminta mengenakan pakaian musim dingin, sementara minuman cokelat panas disajikan untuk melengkapi pengalaman sensorik yang mendukung suasana festival.
"Pendekatan seperti ini tujuannya guna membuat peserta seolah merasakan langsung perayaan musim dingin tanpa harus meninggalkan Indonesia," tutur Clementin.
Dalam sesi cultural insight, SAC menghadirkan Father Benoît Marie Paul Leclerc asal Prancis sebagai pembicara. Father Benoît yang merupakan Pastor Rekan di Gereja Katolik Santo Yakobus Surabaya berbagi pengalaman langsung mengenai kehidupan, budaya, serta kebiasaan masyarakat di negara-negara yang mengalami musim dingin.
Kehadirannya memberikan sudut pandang autentik dan memperkaya pemahaman peserta tentang perbedaan budaya.
"Melalui kegiatan ini, para peserta bisa semakin tahu bagaimana situasi, budaya, dan kebiasaan musim dingin di luar negeri. Dan semoga ke depannya bisa ada festival untuk musim yang lain, agar bisa belajar lebih banyak," tutur Father Benoît.
Program Seasonal Celebration diharapkan dapat terus berlanjut dengan tema musim lainnya, sehingga mahasiswa dan masyarakat luas semakin terbuka terhadap keberagaman budaya dunia secara nyata dan menyenangkan. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

