Bediding Picu Ancaman Gangguan Pernapasan, Dinkes Batu Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat Kota Batu diimbau untuk lebih menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi paparan udara dingin pada malam hari. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah peningkatan kasus penyakit pernapasan yang kerap muncul bersamaan dengan fenomena bediding setiap musim kemarau.
KOTA BATU, SJP– Fenomena bediding yang mulai dirasakan masyarakat Kota Batu pada musim kemarau tahun ini mendapat perhatian khusus dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu. Perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam hari dinilai berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit saluran pernapasan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin mengatakan saat ini suhu udara di Kota Batu dapat mencapai 28 hingga 30 derajat Celsius pada siang hari. Namun saat malam hingga dini hari, suhu turun drastis hingga berada di kisaran 14 sampai 19 derajat Celsius.
"Intinya kondisi tersebut membuat tubuh harus beradaptasi secara cepat terhadap perubahan suhu. Ketika daya tahan tubuh menurun, berbagai penyakit lebih mudah menyerang, terutama yang berkaitan dengan sistem pernapasan. Penyakit yang perlu diwaspadai selama musim kemarau dan fenomena bediding ini antara lain influenza, ISPA, alergi, asma, hingga radang tenggorokan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini kasus yang paling banyak ditemukan di fasilitas kesehatan masih didominasi influenza. Namun ancaman lain yang juga perlu diwaspadai adalah meningkatnya paparan debu akibat kondisi cuaca kering selama musim kemarau.
Menurutnya, debu yang beterbangan di udara dapat dengan mudah masuk ke saluran pernapasan dan memicu reaksi alergi, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat asma maupun alergi pernapasan.
“Debu-debu yang beterbangan ini kalau terhirup dan masuk ke mulut bisa memicu reaksi alergi. Bagi orang yang punya riwayat alergi tinggi, risikonya tentu lebih besar,” jelasnya.
Karena itu, Dinkes mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker saat berada di area ramai maupun saat beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang cukup lama.
“Kalau berkumpul di keramaian sebaiknya tetap memakai masker agar debu tidak mudah masuk ke saluran pernapasan dan memicu penyakit,” tambahnya.
Selain itu, fenomena bediding juga meningkatkan risiko terjadinya faringitis atau radang tenggorokan. Udara yang lebih kering, dingin, serta tingginya partikel debu dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan yang ditandai dengan rasa nyeri saat menelan, tenggorokan kering, hingga suara serak.
Dinkes juga mengingatkan kelompok rentan seperti penderita asma agar lebih berhati-hati saat beraktivitas pada malam hari. Suhu udara yang dingin dapat memicu penyempitan saluran napas dan meningkatkan risiko kambuhnya gejala asma.
“Bagi penderita asma maupun alergi, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam hari ketika suhu udara sedang sangat dingin,” tandasnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

