Stunting Masih Jadi PR Untuk Kota Batu

Fenomena “lulus 10 masuk 10” tersebut kini menjadi alarm bahwa persoalan stunting bukan sekadar soal bantuan makanan tambahan, melainkan menyangkut pola pengasuhan, kesehatan lingkungan, hingga konsistensi pemantauan tumbuh kembang anak sejak usia dini

23 May 2026 - 12:59
Stunting Masih Jadi PR Untuk Kota Batu
pemeriksaan stunting terhadap anak di Kota Batu (Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Upaya menekan angka stunting di Kota Batu ternyata masih menghadapi tantangan serius. Meski berbagai program intervensi gizi terus digencarkan, prevalensi stunting di Kota Batu masih bertahan di kisaran 10 persen.

Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja pada Sabtu (24/5/2026) menegaskan. bahwa pihaknya menemukan pola yang menjadi penghambat utama turunnya angka stunting secara signifikan. Fenomena itu disebut sebagai “lulus 10 masuk 10”.

"Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika sejumlah balita berhasil keluar dari kategori stunting, namun dalam waktu bersamaan muncul jumlah kasus baru yang hampir sama. Yang kami upayakan sekarang adalah memutus siklus itu,” ujarnya.

Menurutnya, pola tersebut membuat angka stunting sulit turun drastis meskipun program penanganan terus dilakukan di lapangan. Karena itu, strategi penanganan kini mulai diubah dengan memperkuat pencegahan sejak fase awal perlambatan pertumbuhan atau growth faltering.

Dinkes menilai banyak orang tua masih keliru memahami indikator tumbuh kembang anak. Sebagian besar hanya fokus pada kenaikan berat badan, padahal pertumbuhan tinggi badan juga menjadi indikator penting dalam mendeteksi potensi stunting.

“Kalau berat badan naik tapi tidak mencapai target minimal kelompok umur, itu sudah lampu kuning. Kondisi tersebut membuat kader posyandu kini diminta lebih aktif membaca grafik pertumbuhan anak secara detail, bukan sekadar mencatat kenaikan timbangan," imbuhnya.

Selain faktor pola asuh dan asupan gizi, Dinkes juga menemukan pengaruh faktor eksternal seperti cuaca ekstrem terhadap meningkatnya risiko stunting. Anak-anak yang sering mengalami sakit berulang seperti batuk dan pilek cenderung mengalami gangguan pertumbuhan karena energi tubuh lebih banyak digunakan untuk pemulihan dibanding pertumbuhan.

Akibatnya, tinggi dan berat badan anak sulit berkembang optimal meskipun pola makan sudah diperbaiki. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkot Batu kini memperkuat layanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) hingga tingkat desa. Sistem skrining kesehatan dibuat lebih ketat agar potensi perlambatan pertumbuhan dapat terdeteksi lebih awal.

Distribusi bantuan nutrisi seperti susu subsidi juga mulai diperketat agar benar-benar tepat sasaran kepada keluarga dengan risiko tinggi stunting. Aditya juga menegaskan, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau tenaga kesehatan semata.

"Kesadaran orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak secara rutin tetap menjadi faktor paling menentukan. Target kami tetap turun satu digit tahun ini,” pungkasnya. (*)

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow